Saturday, April 8, 2017

Dilema Sanksi Siswa, Kekerasan ataukah Pendidikan?

    Saturday, April 08, 2017  

Oleh: Amin Mustofa, S. Pd


Ingat pada hari pertama masuk sekolah, para orang tua dengan beragam profesi dan pekerjaan   (petani,   pedagang,   karyawan,   buruh   pabrik,   dan   pegawai)   ramai-   ramaiberbondong- bondong ikut datang ke sekolah, mengantarkan anak- anaknya, menyerahkan,mempercayakan   pendidikan   anaknya   pada   guru.   Fenomena   ini   menarik, mengundang simpati, dan menyentuh hati. Kegiatan tersebut tak sekadar perayaan atau, basa- basi pada awal tahun pelajarantetapi tersirat makna penting, salah satunya orang tua memberikan amanat pada guru agarmendidik   anak-   anaknya.

Orang   tua   yang   seharusnya   bertanggung   jawab   penuh   padapendidikan anak- anaknya harus membagi tugas dengan para guru. Pada jam sekolah, tugaspendidikan sang anak dipercayakan pada guru. Sementara orang tua mencari nafkah yang salah satunya untuk membiayai pendidikan anak- anaknya. Pada jam di luar sekolah, giliranorang tua yang mendidik anak- anaknya sendiri Sebagai orang tua, kita berharap anak- anak kita lancar dalam menempuh pendidikandi sekolah, tidak ada kendala apapun. Guru berkenan mendidik setulus hati.

Anak kita juga mau didik. Namun, terkadang dalam perjalanannya, pendidikan tidak seindah itu. Terkadang beragam hal menjadikan anak kita melakukan tindakan yang menyimpang aturan sekolahyang pada akhirnya mereka harus menerima sanksi dari guru. Dalam   dunia   pendidikan,   penghargaan   (reinforcemen)   dan   sanksi   (punishmen)memang wajar diberikan pada anak didik. Tanpa dua hal ini, pendidikan menjadi hampa.

Pemberian penghargaan diharapkan dapat melatih siswa dalam mengapresiasi, menjadikansiswa   merasa   dihargai   dan   akan   meningkatkan   prestasinya,   baik   siswa   yang   diberipenghargaan maupun teman lain yang belum mendapatkan penghargaan tersebut.
Begitu   juga   dengan   sanksi.   Pemberian   sanksi   memang   diperlukan   dalam   duniapendidikan agar siswa tidak lagi mengulang perbuatannya yang melanggar dan siswa lainnyatidak meniru pelanggaran tersebut. Tanpa penghargaan dan sanksi, pendidikan ibarat robot.Jalan begitu saja. Tanpa tegur sapa, tanpa basa- basi. Peran guru di sekolah tentu saja menggantikan peran orang tua di rumah.

Guru merasa bertanggung jawab pada para siswa di sekolah. Naluri ke-guru-an inilah yang menjadikanguru  peduli  pada siswanya, menasehati  siswa  tatkala  siswanya melakukan tindakan  yangmenyimpang.

Guru sadar bahwa tugas guru tidak hanya mengajari siswa mengetahui teori(kogntif) dan praktik (psikomotornya), tetapi juga menata mental dan akhlak siswa (emotif). Hal   ini  mendorong   guru   responsif   terhadap   pelanggaran   yang  dilakukan  siswanya,   salahsatunya memberikan Sanksi   yang   berupa   tindak   kekerasan   memang   tidak   boleh   diterapkan   di   duniapendidikan,   sebab   tindakan   tersebut   dikhawatirkan   berakibat   buruk   bagi   perkembanganmental siswa.

Oleh karena itu, guru harus pandai memikat hati, merayu siswa sehingga parasiswa mau mengikuti pembelajaran atau pun program sekolah dengan setulus hati, bukankarena paksaan, karena takut pada gurunya. Tindakan siswa yang menghindari tindakan yangmenyimpang (mematuhi tata tertib) juga diharapkan bukan karena mereka takut pada sanksiyang mengancam, tetapi lebih karena kesadaran hati mereka.

Siswa di sekolah bisa dianalogikan seseorang yang sedang sakit. Misalnya sakit perut.Orang yang sakit perut bisa datang ke toko obat untuk mengobati perutnya. Jika dengan obat perutnya masih juga sakit, sebaiknya jangan minum obat yang sama terus karena hal ini bisajadi berbahaya, datanglah ke dokter. Jika sakitnya belum sembuh, kembaliah ke dokter itu
lagi untuk mendapatkankan penanganan lebih lanjut. Bisa jadi, dokter tersebut tidak memberiobat   yang   sama,   tetapi   obat   yang   dosisnya   beda.

Jika   beragam   pengobatan   yang   sudahdiberikan   tapi   sakit   perutnya   masih   belum   juga   sembuh,   bisa   jadi,   dokter   menyarankanpengobatan lebih lanjut lagi, misalnya ke rumah sakit, bahkan sampai pada operasi. Itu punjika prosedur penanganannya sudah dilakukan semuanya. Sama   dengan  siswa.

Jika   siswa   melakukan   pelanggaran,   berarti   dalam   diri   siswatersebut terdapat ketidaberesan, guru perlu memberi tindakan, mulai menasihati. Bila dengannasihat sang anak mengulangi pelanggaranya, pemberian nasihat saja kurang ampuh.

Guru perlu   memberi   tindakan   tambahan,   misalnya   memberinya   sanksi   yang   sanksi   tersebutdidasarkan pada “rasa sayang”. Sanksi yang diberikan tentu saja bertahap, dari yang palingringan sampai sanksi di atasnya, misalnya dikembalikan pada orang tua.

Hal ini mirip denganseseorang   yang   ingin   sembuh   dari   sakit   perut,   tentu   dengan   pengobatannya   bertahap Respons guru yang paling ringan atas pelanggaran   yang dilakukan siswa, misalnyadengan cara menasehati siswa tersebut. Namun, terkadang tidak semua siswa mau mendengarnasehat gurunya yang disampaikan secara lisan.

Tidak sedikit siswa yang sudah berulang-ulang dinasehati secara lisan oleh gurunya, siswa tersebut tetap cuek, ndablek. Meski sudahdinasehati, tetap saja ada yang berani melanggar ulang. Jika fenomena demikian, apakah guruharus   terus   menggunakan   cara   yang   sama   untuk   menasehati   siswa   tersebut?   Guru  dapatmenggunakan cara yang lain.

Karakteristik   siswa   sangat   beragam.  Ada   siswa   yang   dengan   disindir   gurunya   ialangsung paham dan segera membenahi tingkah lakunya. Ada siswa yang disindir ia belumpaham, ia baru paham jika gurunya mengatakan secara blak- blakan. Ada pula siswa yangdinasehati bolak- balik tetapi tetap juga tidak peduli dengan nasehat gurunya.

Jika demikian,guru juga manusia, terkadang tindakan siswa yang seperti itu memancing emosi guru. Jika   memang   ditemukan   sanksi   yang   cenderung   mengarah   pada   tindak   kekerasanyang   dilakukan   guru   dalam   proses   pendidikan,   berbagai   kalangan   harus   mengontrol   diridalam merespons fenomena tersebut. Pertama  insane pers. Insane pers harus mengontrol diri dalam memberitakan kasus tersebut. Bukan berarti kasus sanksi yang mengarah pada kekerasan itu tidak diberitakan atauharus dipendam, tetapi pers harus menghormati dampak dari pemberitaannya tersebut bagiokum pelaku kekerasan dan bagi nama lembaga pendidikan tersebut. Itu berarti pers dalammemberitakannya  bisa  dengan   tidak  menyebut   nama  oknum  tersebut.

Pertama  insane pers. Insane pers harus mengontrol diri dalam memberitakan kasustersebut. Bukan berarti kasus sanksi yang mengarah pada kekerasan itu tidak diberitakan atauharus dipendam, tetapi pers harus menghormati dampak dari pemberitaannya tersebut bagiokum pelaku kekerasan dan bagi nama lembaga pendidikan tersebut. Itu berarti pers dalammemberitakannya  bisa  dengan   tidak   menyebut   nama  oknum  tersebut. Alasan   pers   dalam memberitakan kasus semacam ini seyogyanya tidak sekedar untuk menghebohkan muatanberita di media dengan harapan menarik pemirsa atau pembacanya. Sebaiknya, pers lebih
menekankan pada kontrol sosial, dengan harapan kasus  kekerasan serupa tidak  dilakukanorang lain.

Kedua, orang tua siswa harus bijak dan mengontrol diri. Orang tua harus intropeksi,merenungi tingkah dan sifat anaknya. Seyogyanya orang tua tidak hanya membabi- buta,membela anaknya, dengan menuntut seberat- beratnya oknum guru yang telah melakukantindakan kekerasan. Orang tua harus benar- benar mengoreksi anaknya. Ada baiknya tidaklangsung melaporkan polisi jika anaknya mengaku dianiaya oleh gurunya. Orang tua harusmengklarisikasi   kebenaran   pernyataan   anaknya   dengan   berbagai   cara.

Misalnya   dengan menanyai langsung  pada  anaknya, pada   teman atau  orang   lain yang menjadi   saksi, yangkebenaran pernyataannya bisa dipertanggungjawabkan, dan juga mengklarifikasi langsung kesekolah.  Orang   tua  juga   harus   waspada  terhadap  pihak   ketiga,   sebab  tidak  sedikit   kasuskekerasan  yang   sebenarnya  ringan  dan   bisa   diselesaikan   dengan   baik,   justru   masalahnyabertambah rumit lantaran hadirnya pihak ketiga. 

Disanksi dengan tindakan yang mengarah pada kekerasan tentu hal yang wajar jikaorang   tua   tidak   terima.   Namun,   ketidakterimaan   orang   tua   tersebut   seyogyanya   tidakdidasarkan pada upaya membalas dendam pada guru dengan menuntut hukuman seberat-beratnya, tetapi lebih ditekankan pada pembelajaran agar kasus serupa tidak terulang. Jika memang sanksi yang mengarah pada  kekerasan tersebut timbul  atas tindakansiswa  yang memang melakukan pelanggaran berat yang  sudah dilakukan berulang- ulangpadahal siswa tersebut sudah berulang kali dibina guru, seyogyanya orang tua juga harusbijak. Dalam hal ini, jika memang anaknya melakukan perbuatan itu, hal yang wajar jika gurumemberi hukuman pada siswa tersebut.

Pada  prinsipnya,  posisi guru tentu menggantikanposisi   orang   tua,  hanya   tempatnya   saja  yang   berbeda.   Hukuman   yang   oleh   guru   kepadasiswanya,   tentu   dengan   harapan   siswa   yang   dihukum   tersebut   mengubah   tindakannya.Bukankah  dalam  Islam, pemukulan oleh orang tua pada   anaknya pun dibolehkan bahkandiharuskan tatkala sudah waktunya salat, anak tersebut tidak mau menunaikan salat? Tentusaja pukulan dengan dilandasi dengan kasih saying dan memiliki misi pendidikan. Sanksi berupa tindak yang mengarah pada kekerasan pada anak memang tidak baik,bahkan dilarang. 

Di samping itu, membela anak dengan membabi buta tidak baik pula bagipsikologis anak karena akan berakibat anak tersebut merasa tersanjung. Selalu merasa benar.Egois. Tidak mau mengalah meskipun salah. Berani berbuat tidak mau bertanggung jawab.Bisa jadi anak tidak merasa kapok atas pelanggaran yang telah dilakukannya dengan alasan iamempunyai   amunisi,     dapat   menuntut   secara   hukum   jika   ada   guru   yang   menyentuhnya.

Alangkah   berbahayanya   masa   depan   bangsa   ini   jika   para   generasinya   bermental   berani berbuat tetapi tidak mau bertanggung jawab.Adanya payung hukum kekerasan anak memang diharapkan mampu meminimalisasiadanya kekerasan pada anak, termasuk kekerasan di sekolah. Di sisi lain, fenomena itu jugaberpotensi menjadikan  guru  benar- benar  ekstra  hati-  hati   dalam  menindak   siswanyanya.

Bahkah bisa jadi, guru menjadi enggan untuk marah, menjewer telinga siswa, bahkan bisajadi menjadikan guru menjadi cuek pada sikap  tingkah  laku  siswa  lantaran   takut denganrisiko yang akan dihadapi. Guru yang cuek dalam hal ini hanya masuk kelas, menyampaikanmateri pelalajaran saja. Tentang sikap dan tindakan siswa yang menuyimpang, itu urusansiswa. Dampak yang lain, jika para orang tua tidak memberi pemahaman yang intensif padaanaknya, besar kemungkinan anak akan merasa menang dan bebas bertingkah di sekolah.Siswa akan merasa bahwa guru tidak berani menyentuhnya, sebab ia mempunyai amunisiuntuk melaporkan guru jika guru berani menghukum. Opini ini tidak bermaksud membelaoknum guru, sebab secara yuridis sanksi kekerasan memang tidak dibenarkan

Meski adanya UU perlindungan anak, guru tidak perlu takut memberi sanksi. Tetaplahprofessional dalam   menjalankan tugas. Tetap berikan   sanksi  pada siswa  yang  melanggar,asalakan dengan  sanksi yang mendidik.  Jangan cuek karena tidak mau berurusan dengansiswa yang bandel dan orang tuanya karena cuek, membiarkan siswa yang melanggar justrumerupakan tindakan yang tidak mendidik. Pelanggaran yang dilakukan berulang- ulang siswaakan menjadi kebiasaan dan dianggap tidak melanggar oleh siswa. Ini berakibat buruk bagimasa depan siswa itu sendiri. Kelak, sang anak akan masyarakat akan bertindak semuanyatanpa memperhatikan aturan dan tidak mau diatur. Semoga bukan itu yang terjadi. Semua tentu berharap, dalam pendidikan kita tetap terbangun iklim pendidikan yang baik, anak maudididik, guru tulus dalam mendidik, orang tua mendudukung pendidikan anak.


*)Penulis adalah guru SMKN Baureno dan Attanwir Islamic Boarding School Talun,Sumberrejo, Bojonegoro


No comments:
Write comments