Tuesday, April 18, 2017

Kekerasan Bukan Jalan Utama

    Tuesday, April 18, 2017  

Oleh: Inna Musfirah

suarabojonegoro.com -  Menangapi dari artikel bapak Amin Mustofa, S. Pd yang berjudul Dilema Sanksi Siswa, Kekerasan ataukah Pendidikan? Saya sangat setuju dengan pengandaian yang di buat oleh bapak amin mustofa mengenai penanganan dokter terhadap suatu penyakit.

Pengandaian tersebut sangat cocok kaitannya dengan penyakit nakal siswa yang sering terjadi di akhir-akhir ini. guru harus memiliki seribu atau bahkan sejuta resep untuk menangani kasus yang terjadi ke pada setiap muridnya Berbicara mengenai kekerassan yang terjadi dalam dunia pendidikan, memang tidak bisa dipungkiri lagi kalau kekerasan dalam dunia pendidikan memang sudah sering terjadi semenjak tahun 1990-an. Pada tahun 1990-an banyak guru yang menggunakan metode kekerasan yang terkesan dan dianggap sangat wajar untuk dilakukan untuk memberikan efek jera pada murid.

Namun, hal tersebut sudah sangat jauh berbeda keadaannya dengan sekarang. Sanksi berupa kekerasan seolah-olah telah menjadi hal yang terlarang dilakukan dalam dunia pendidikan ini mengingat sudah ada undang undang yang mengatur tentang kekerasan dalam dunia pendidikan. Selain itu kekerasan juga bukan salah satu jalan yang dapat digunakan oleh guru untuk mendidik anak supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Jika dalam artikel bapak Amin Mustofa di sebutkan bahwa kekerasan boleh dilakukan dengan syarat hal itu dilakukan dengan kasih sayang dan bertujuan untuk sebuah pendidikan, tentu saja saya setuju.

Namun, adakah suatu indikasi yang jelas untuk menjadi tolak ukur penilaian jika perbuatan guru tersebut bukan termasuk dalam suatu perbuatan kekerasan karena dilakukan dengan penuh kasih sayang dan bertujuan untuk mendidik seorang anak?  Menurut saya, kita tidak bisa simplify suatu masalah yang besar hanya dengan berprilaku subjektiv. Kasih sayang dan niat mendidik itu adalah sesuatu yang sangat subjektiv, setiap orang dapat memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Untuk menghindari sifat yang subjektiv tersebut, maka perlu adanya suatu indikasi jelas. Misalnya, suatu sanksi dari guru dapat di kategorikan tanpa kasih sayang dan tidak bertujuan untuk mendidik siswa, jikalau sudah ada tanda memar, memukul menggunakan sapu, pukulan dilakukan lebih dari satu kali dan mengucap kata kotor. Hal itu adalah suatu contoh dari indikasi perbuatan kekerasan yang bertujuan untuk mempermudaah pengkategorian suatu tindakan yang terkesan subjektiv.

 Seperti yang kita tahu bahwa setiap anak memiliki keunikan dengan kepribadian mereka masing-masing. Guru tidak bisa menyamaratakan mereka atau menganggap mereka sama. Oleh sebab itu, adanya sanksi kekerasan dalam proses mendidik anak dapat menyebabkan berbagai masalah dalam psikologi dari dalam diri anak tersebut. Contoh efek psikologi tersebut siswa menjadi pendiam, minder, takut dengan guru, tidak mau sekolah, dendam terhadap guru dan yang lebih parah siswa bunuh diri karena mendapat sanksi kekerasan dari guru.

Terkadang ada anak yang sekali di tegur langsung mengerti kesalahannya. Namun, jika ada anak yang sangat sering membuat suatu masalah (Trouble maker) maka guru tersebut harus melihat bagaimana latar belakang anak tersebut sebelum bertindak. Ada tipe anak yang terkadang akan dendam jika diperlakukan kasar ada juga yang malah menjadi pendiam karena hal itu. Maka sangat tidak disarankan jika seorang guru bertindak kasar terhadap anak didiknya dengan alasan mendidiknya.

Solusi Ada beragam cara untuk mengatasi masalah kekerasan dalam dunia pendidikan seperti meningkatkan kominikasi dari pihak sekolah dengan orang tua. Orang tua adalah seseorang yang paling dihormati keberadaannya oleh seorang anak. Orang tualah yang paling mengerti seperti apa karakter dari anaknya.

Oleh sebab itu, jikalau ada suatu masalah yang sulit untuk diselesaikan maka pihak sekolah harus menjalin komunikasi yang baik dengan orang tuannya. Sekolah harus berkonsultasi terlebih dahulu kepada orang tua perihal karakter anak tersebut sehingga guru tidak akan salah untuk mengambil tindakan kepada anak tersebut. Jangan sekali-kali guru langsung mengambil sifat dengan caranya sendiri seperti pemberian sanksi kekerasan kepada seorang anak menginggat dampak besar yang akan terjadi setelah itu akan menjadi masalah besar dikemudian harinya.

Guru juga harus berlaku profesional dalam mendidik anak. Pemberian sanksi berupa kekerasan bukan jalan terbaik untuk mendidik anak. Pemikiran tersebut harus selalu di pegang teguh oleh gurur.

Walaupun ada undang-undang mengenai perlindungan anak yang akan membatasi ruang guru untuk mendidik anak, guru tetap harus profesional terhadap tugasnya yaitu untuk mendidik anak didiknya. Guru harus mencari cara lain bagaimana untuk mendidik anak selain dengan menggunakan suatu kekerasan.

Guru harus berlajar lagi mengenai dampak-dampak kekerasan yang akan muncul terhadap psikology anak dan mengevaluasi diri sendiri terhadap apa yang telah dia perbuat kepada anak.

Bisa jadi guru itu telah dianggap tidak benar untuk mendidik siswa sehingga siswa berani kurang ajar dan berbuat salah di dalam kelas. Selain itu terkadangang guur dianggap tidak menguasai materi dengan baik sehingga itu dapat menurunkan rasa hormat siswa terhadap guru hingga menyebabkan dia tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh guru tersebut lalu guru tersebut tidak terima dengan sifat siswa dan akhirnya terjadilah suatu kekerasan.

Sejatinya. Siswa itu sangat mengerti bagaimana untuk bertindak kepada guru. Siswa akan sangat taat pada guru jikalau guru tersebut bertindak baik dan menjaga kehormatannya dan kewibawaannya sendiri di depan siswa. Begitu juga sebaliknya, jikalau guru sudah tidak becus untuk mengajar, seperti tidak menguasai materi dengan baik dan jarang masuk kelas, maka siswa juga tahu bagaimana untuk bersifat.

Bukan bermaksud berada di sisi seorang siswa, akan tetapi  ada sebuah kutipan yang berbunyi  “Do not train children to learning by force and harshness, but direct them to it by what amuses their minds, so that you may be better able to discover with accuracy the peculiar bent of the genius of each.” -Plato

No comments:
Write comments