Tuesday, April 11, 2017

Memutar Uang di Desa

    Tuesday, April 11, 2017  

Oleh : Didik Wahyudi

suarabojonegoro.com -  Fenomena yang sudah jamak terjadi dan sering kita dengar yakni perputaran serta aliran uang dari desa ke kota. Padahal gambaran tersebut bersamaan dengan fenomena banyaknya pengangguran serta kurangnya lapangan pekerjaan di desa. Desa yang miskin ditambah lagi uangnya mengalir ke kota sebab desa tak cukup menyediakan barang dan jasa. Meski juga banyak desa-desa yang sudah terlepas dari jerat kemiskinan dengan meneguhkan kemandirian.

Orang-orang desa "terpaksa" berbelanja berbagai kebutuhan barang dan jasa yang asalnya dari kota, sebab di kotalah hampir semua jasa dan barang diproduksi dengan meriah. Warga desa tinggal menikmati tanpa perlu bersusah payah memproduksi, tapi syaratnya harus punya uang untuk berbelanja barang dan jasa. Jika panen, akan kenduri, akan menggelar resepsi dan lain sebagainya maka berbelanjanya di kota sebab semua tersedia.

Fenomena larinya uang dari desa ke kota itu menjadikan desa makin subordinat, makin tergantung dengan kota dan agak kesusahan melepas mata rantai distribusi barang dan jasa "yang merugikan" tersebut. Desa masih belum bisa melepaskan diri dari mata rantai distribusi barang dan jasa tersebut sebab belum ada alternatif yang menjanjikan dan membuatnya mandiri.

Sebenarnya banyak pemimpin daerah yang mencoba untuk memangkas fenomena mengalirnya uang dari desa ke kota dengan cara mendatangkan industri ke desa. Warga desa bisa bekerja mendapatkan uang dengan bekerja di industri sehingga meningkatkan daya beli. Jika daya beli meningkat memungkinkan kesejahteraan makin dekat dan bisa jadi mandiri. Mungkin begitu bayangannya para pemimpin daerah tersebut.

Sepertinya cara ini cukup efektif dan instan namun sekaligus akan mengancam kemandirian desa dalam jangka panjang. Orang-orang desa hanya akan menjadi buruh pabrik dengan skill terbatas dan mulai meninggalkan "sawah" serta pekerjaan-pekerjaan lain yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat desa. Warga desa akan menghabiskan waktunya di industri kurang lebih 8 jam dalam sehari dalam hitungan normalnya, jika lembur atau tambahan pekerjaan maka makin panjang waktunya di industri.

Cara instan tersebut tentu hasilnya akan instan pula, semisal orang-orang desa yang telah bekerja di industri maka akan membelanjakan uangnya kembali ke kota. Sebab di desa tak menyediakan barang dan jasa secara memadai, jika pun ada hanya perpanjangan tangan dari kota (waralaba/franchise). Mereka tak sempat lagi mengembangkan diri untuk lebih mandiri, apalagi mulai meninggalkan pekerjaan yang telah lama ada di desa semisal bekerja di sawah, berternak, tukang kayu, tukang batu dan lain sebagainya. Penerus pekerjaan tersebut tersedot dan memilih bekerja di industri. Sebab industri tentu memilih pekerja yang potensial di desa tersebut.

BUMDESA

Lalu bagaimana caranya agar desa lebih mandiri bisa memenuhi kebutuhan sendiri dan mengelola potensi sendiri serta bisa menghadang laju uang agar tak lari ke kota ? Pilihannya adalah mendirikan BUMDesa (Badan Usaha Milik Desa) yang dikelola secara profesional agar kemandirian desa makin mendekat. Tak mudah memang tapi cara ini adalah langkah panjang menghindari cara-cara instan yang mengancam kemandirian untuk mewujudkan desa bisa benar-benar mandiri.

Tentu saja dengan mendirikan Bumdesa usahanya tak bertabrakan dengan "usaha" warga yang telah lama ada, namun keberadaan Bumdesa makin mengembangkan usaha warganya. Bumdesa menjadi bapak asuh yang keren membangkitkan usaha-usaha warga lebih kreatif, menfasilitasi kegiatan perekonomian atau mendorong lebih giat agar warga menciptakan produk kreatif lalu BumDesa memasarkannya ke kota. Semisal beras organik, sabun organik, pasta gigi organik, kudapan khas desa, pupuk organik atau mengusahakan ke bidang jasa travel, pariwisata desa, persewaan dan lain sebagainya.

Jika tak mendirikan BumDesa bisa memungkinkan Dana Desa dari pusat akan habis begitu saja, namun jika uang tersebut diputar terus menerus memungkinkan uang makin banyak dan desa makin kaya raya. Warga desanya tak perlu lagi cari pekerjaan ke kota ataupun tak perlu lagi berbelanja barang dan jasa ke kota lagi. Uang ada di Desa lalu diputar terus menerus memberikan efek warga desa ketiban rejeki masing-masing.

Langkah mendirikan usaha Bumdesa tentu tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi ketidakmudahan tersebut menjadikan desa lebih mandiri dan tak tergantung lagi. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa dilakukan, tapi bisa dilakukan dengan usaha sungguh-sungguh tak gampang menyerah. Makanya desa memilih pekerja yang potensial untuk mengelola Bumdesa agar arahnya makin jelas menuju arah kesejahteraan bersama.

Minimal Desa punya produk lalu bisa bertukar produk dengan kota, tak lagi desa melulu beli barang dan jasa ke kota. Atau bisa jadi suatu saat memutar balik arus uang dari kota yang sudah lumayan "kebanyakan" ke desa. Orang-orang kota jika ingin menghabiskan uang cukup di desa saja semisal mau liburan ada pariwisata di desa, mau beli yang organik belinya di desa atau produk-produk lain yang dihasilkan desa. Produk dari desa yang penuh ketekunan serta ketelitian bisanya didapatkan dari desa. Suatu saat bisa jadi orang-orang di kota lebih menyintai produk asli desa dengan kwalitas yang keren, sebab produk kota dibikin massal dan tak specialis seperti karya tangan produk orang desa.

Saya rasa orang desa tahu serta memahami amat sangat potensi dirinya dan kebutuhannya. Mereka hanya perlu mengusahakan dengan langkah-langkah serta manajemen yang memadai, manajemen khas desa yang penuh kekeluargaan dan cinta kasih.

No comments:
Write comments