Wednesday, April 26, 2017

MENGENAL SOSOK KARTONO DIBALIK KARTINI

    Wednesday, April 26, 2017  

Oleh: M. Agus Wahyudi

suarabojonegoro.com -  Menanggapi tulisan ibu Khozanah Hidayati (Anggota FPKB DPRD Jatim) pada tanggal 16 April 2017. Tulisannya tentang R.A. Kartini sangat menarik dan mencerahkan, sebagaimana judul buku Armijn Pane tentang sosok R.A. Kartini “habis gelap terbitlah terang”. Selama ini masyarakat pada umumnya memandang R.A. Kartini hanya sebatas sebagai pelopor pejuang emansipasi wanita Indonesia. Dalam lingkungan akademik R.A. Kartini juga sering disejajarkan dengan Cut Nyak Meutia dan Cut Nyak Dhien, dua tokoh tersebut merupakan pejuang Perang Aceh dan Pahlawan Nasional, sekaligus salah satu tokoh feminimisme Indonesia. Jika ditilik dengan kaca mata sejarah, kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis Sosialis Utopis Charles, Forier pada tahun 1837. Feminisme berarti emansipasi wanita. Sedangkan menurut istilah adalah berbagai bentuk perlawanan terhadap berbagai bentuk deskriminasi sosial, personal dan ekonomi dimana perempuan sebagai pihak yang merasa menderita karena jenis kelaminnya. Sedangkan menurut kamla dan wight feminis adalah kesadaran akan menindas dan pemerasan terhadap kaum perempuan di dalam masyarakat dan tidakan sadar oleh perempuan untuk mengubah kondisi tersebut. 

Setidaknya hal inilah yang disuarakan R.A. Kartini tentang keinginan adanya  kesetaraan antara kaum perempuan dan laki-laki khususnya dalam masalah pendidikan

Sebagaimana  yang tulis oleh ibu Khozanah Hidayati, “R.A. Kartini di samping sebagai pelopor Utama emansipasi wanita di Nusantara, beliau juga berjasa dalam mempelopori upaya menggerakkan Kyai Sholeh Darat untuk menerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa dengan huruf arab pegon dan bisa dinikmati dan dimengerti makna per makna dari Ayat Suci Al-Qur’an”.

Pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa, selain menjandi pelopor emansipasi dan feminisme R.A. Kartini juga mempunyai peran penting dalam penyebaran Islam khususnya di pulau Jawa. Ditandai dengan terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan huruf pegon karya Kyai Sholeh Darat.

Hal ini menandakan bahwa hubungan Kyai Sholeh Darat dan R.A. Kartini bisa disebut dengan simbiosis mutualisme, yakni saling menguntungkan dan melengkapi. Dan yang perlu digaris bawahi bahwa Kyai Sholeh Darat menjadi salah satu orang yang mempengaruhi pemikiran R.A. Kartini dalam hal agama Islam. Berkat kecerdesan R.A. Kartini, Kyai Sholeh menerjemahkan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa sehingga memudahkan masyarakat Jawa dalam memahami Islam dengan belajar Al-Qur’an.

Namun perlu diketahui, dibalik munculnya pemikiran seorang tokoh pasti ada tokoh yang memengaruhi, adanya  sebuah akibat pasti karena adanya sebab. Begitu juga pemikiran R.A. Kartini Pahlawan Nasional negeri ini yang pemikirannya tidak terlepas dari sosok R.M.P Sosrokartono seorang putra Indonesia dan Pahlawan Nasional yang namanya semakin hilang tertelan zaman dan semakin banyaknya orang pengidap penyakit buta sejarah.

R.M.P Sosrokartono yang sering dipanggil dengan sebutan Kartono lahir pada hari Rabu Pahing tanggal 10 April 1877 M, atau bertepatan dengan tanggal 17 Robi’ul Awwal 1297 (27 Maulud 1086 tahun Jawa). Kartono  anak Bupati Jerpara Raden Mas Adipati Ario Samingoen Sosroningrat dengan istrinya Ngasirah, putri kyai Mudirono dari Teluk Awur.  Sosrokartono hidup di zaman kolonial Belanda dan Jepang, salah satu pejuang kemerdekaan yang hilang namanya ditelan zaman. Ia adalah kakak kandung R.A. Kartini yang kita kenal Ibu Emansipasi Wanita Indonesia, kakak beradik ini sama-sama dilahirkan di Mayong. Kartono mempunyai tiga adik perempuan, yaitu Kartini, Kardinah, dan Roekmini.
Pada usia 7 tahun Kartono masuk E.L.S. (Europeesche Lagere School) artinya Sekolah Dasar  Eropa di kota Jepara. Lulus pada tahun 1882 dengan hasil yang sangat baik, kemudian melanjutkan studinya ke H.B.S. (Hogere Burger School) Sekolah Tinggi Warganegara di Semarang pada tahun yang sama. Pada pertengahan tahun 1897 Sosrokartono bisa menyelesaikan belajarnya dari H.B.S dengan predikat nilai yang bagus. (Baca: Indy G Khakim).

Pada tahun 1898 meneneruskan sekolahnya ke negeri Belanda. Mula-mula masuk  sekolah Teknik Tinggi di Leiden, tetapi tidak merasa cocok, sehingga pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur.

Sosrokartono merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke negeri Belanda. Kemudian lulus mendapat gelar Docterandus in de Oosterche Talen (Doktor dalam bidang Bahasa) menguasai 44 bahasa, 9 bahasa Asing Timur, 17 bahasa Asing Barat, dan 18 bahasa Daerah. Maka dari itu, profesinya di luar negeri menjadi wartawan perang Dunia II, ahli bahasa, penerjemah dan tabib. (Baca: Aksan)

Kiprah Kartono juga lirik oleh bangsa Barat maka tidak heran jika Kartono memiliki banyak julukan, oleh bangsa Barat Kartono dijuluki De Javanese Prins (pangeran tampan dari Jawa). Selain De Javanese Prins Sosrokartono juga mempunyai julukan yang unik yaitu Mandor Klungsu dan Djoko Pring. Mandor Klungsu maksudnya, Klungsu artinya biji asam, bentuknya kecil tapi kuat yang ketika ditanam dan dirawat maka akan menjelma sebuah pohon yang besar dan kekar. Bukan sekedar biji buah asam, melainkan kepala/pimpinan. Pohon asam, mulai dari pohon sampai bijinya semua dapat dimanfaatkan.

Selain itu, mempunyai sifat kokoh dan tegar. Klungsu dan pohon asam ibarat manusia dengan Tuhan, Ciptaan dengan sang Pencipta. Djoko Pring maksudnya adalah, Djoko dalam Jawa  diartikan sebagai lelaki yang belum menikah dan Pring adalah bambu. Bambu selalu tumbuh dan memperbanyak diri, pohon bambu dari daun sampai akarnya dapat bermanfaat bagi manusia. Ini melambangkan bahwasannya Sosrokartono dari hidup hingga matinya ingin sekali bermanfaat bagi banyak manusia. Dengan bukti adanya tembang Sosrokartono yang berjudul Djoko Pring, yang berbunyi:

Pring padha pring
Weruh padha weruh
Eling padha eling
Susah padha susah
Seneng padha seneng
Eling padha eling
Pring padha pring

Artinya; bambu sama-sama bambu, tahu sama-sama tahu, ingat sama-sama ingat, susah sama-sama susah, senang sama-sama senang, ingat sama-sama ingat, bambu sama- sama bambu. Aji Pring ini mengajak kepada manusia untuk saling memanusiakan manusia yang satu dengan yang lainnya, dengan cara membantu dan saling mengingatkan, karena kita adalah manusia yang sama. (Baca: Aksan).
Sosrokartono kembali ke rahmatullah pada hari Jum’at Pahing, tanggal 8 Pebruari 1952 di rumah Jl. Pungkur No. 19 Bandung. Tanpa meninggalkan istri dan anak. Makamnya di Desa Kaliputu Kecamatan Kota Kabupaten Kudus Jawa Tengah.

Salah satu pemikiran Kartono yang ada hubungannya dengan adiknya R.A. Kartini tentang kesetaraan sesama manusia dan feminisme adalah pemikiran Kartono tentang memanusiakan sesama manusia atau bisa disebut dengan istilah humanisme. Humanisme sebuah paham yang menempatkan manusia dikedudukan yang tinggi. Namun Humanisme yang diajarkan Kartono mempunyai dampak yang berbeda dengan Humanisme original dari Barat.

Jika dampak paham Humanisme Barat berujung ke sikap atheis dengan alasan manusia memiliki kedudukan paling tinggi dibanding dengan Tuhan. Namun Humanisme religius Kartono berujung dengan sikap kemanunggalan dengan Tuhan semakin taqwa dengan Tuhan, dengan alasan hubungan sesama manusia dengan saling mengasihi, menyanyangi, tolong menolong, tanpa membedakan ras, budaya, gender, bahasa dan sebagainya, sebagai jembatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Untuk mengakhiri tulisan yang menanggapi tulisan ibu Khozanah Hidayati, meskipun secara eksplisit Kartini tidak pernah mengatakan bahwa pemikirannya dipengaruhi oleh Kartono namun sacara emplisit terkesan bahwa corak pemikiran Kartini terpengaruh oleh Kartono. Karena pada waktu itu Kartini banyak belajar dari buku-buku bacaan Kartono, yang dipelajari Kartono saat melalang buana di negeri Eropa.



(*Darul Afkar Institute Klaten Jateng)

No comments:
Write comments