Wednesday, April 5, 2017

Pemimpin yang Teladan

    Wednesday, April 05, 2017  

Oleh : Asep Fahza



Indonesia mengalami krisis pemimpin yang teladan, keteladanan seorang pemimpin saat ini yang dirindukan oleh semua kalangan, Indonesia saat ini butuh pemimpin selain bisa memberikan perubahan juga membutuhkan sosok pemimpin yang memberikan contoh yang baik, karena seorang pemimpin adalah figur, panutuan bagi semua yang dipimpinnya.

Akhir-akhir ini banyak berita negatif mengenai para pemimpin di negeri ini, ambil contoh peristiwa korupsi massal terhadap anggaran pembuatan e-ktp bagaimana seorang pimpinan tak memberikan contoh baik justru sebaliknya para pimpinan negeri ini memberikan perilaku yang buruk. Padahal harkat seorang pemimpin bukan dilihat dari mereka beretrorika dan manisnya kata-kata, bukan pada janji-janji yang tidak ada bukti, melainkan keteladan dari seorang pemimpin itu, sinkron antara perbuatan dan perkataan.

Benar apa yang dibilang oleh WS Rendra “ Perjuangan adalah pelaksana kata-kata’’. Perjuangan adalah bentuk konkret dari sebuah perkataan, bukan sebuah sumpah yang akan "menjadi sampah, bukan sebuah janji tanpa bukti, bukan sebuah visi tanpa misi. Kong Fu Tse pernah berkata bahwa “ Ciri-ciri orang yang berjiwa besar ialah orang yang menjadi teladan dan kemudian ia meminta agar orang-orang lain mengikutinya”

Keteladan sangat penting, bagaimana mungkin seorang pemimpin hanya pandai berkata-kata namun perbuatannya tak sesuai dengan perkataannya, Nabi Muhammad juga berkata “Lihatlah apa yang diperbuatnya bukan apa yang dikatakannya’’. Begitu juga Imam Ali “Keteladanan lebih mujarab ketimbang perkataan’’

Disini perlu menyimak, menelaah lebih dalam bagaimana riwayat pergerakkannya, bagaimana mereka bisa diterima oleh khalayak umum dan pada akhirnya mereka dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin bangsa ini, tentu dengan keteladanannya. Dalam memegang sebuah prinsip, perbuatanya sesuai dengan perkataanya.

Disini perkataan bukan nerarti hal yang tak penting. Semua memang bermula dari kata-kata, namun bagaimana kata-kata mempunyai nyawa, kata-kata itu menpunyai daya, tentunya kata-kata harus mempunyai tangan kaki berupa kerja, karya dan kenyataan. Karena menurut Arendt vita activa terdiri atas tiga elemen dasar yakni kerja, karya dan tindakan. Tiga elemen ini harus dimiliki setiap pemimpin karena ini merupakan satu kesatuan.

Istirahatlah kata-kata

Untuk para pemimpin atupun calon pemimpin berhentilah berwacana, saatnya bekerja keras, bekerja dengan intim. Bekerja degan hati dan sepenuh hati. Saatnya memberikan teladan kepada rakyat, saatnya keteladan yang menjadi garda terdepan. Buka lagi sekedar berretrorika. Karena Indonesia butuh pemimpin yang teladan. Indonesia benar-benar krisis keteladanan.

Kita ini tidak membutuhkan sama sekali kerumunan pemimpinan berwajah dasamuka, pandai membuat citra didepan kamera, dan hanya cakap berkata-kata yang dianggit dari kita partisan yang sarat akan kepentingan kelompok atau kepentingan golongannya.

Istirahatkanlah kata-katamu. Saatnya tancap gas untuk bekerja, bekerja dengan jujur, bekerja dengan profesional, bekerja tanpa korup sana sini, berkarya untuk kepetingan bersama,
bertindak dengan bijak. kami rindu pemimpin seperti itu.

No comments:
Write comments