Thursday, April 13, 2017

Resensi: Perdebatan Teologis Penganut Kejawen dengan Paham Puritan

    Thursday, April 13, 2017  

Oleh: Hestu Widiyastono

suarabojonegoro.com -  Serat Gatholoco merupakan karya sastra Jawa anonim yang muncul pada awal abad 19 di jaman Mataram Surakarta. Yang menarik  adalah penyampaiannya yang sangat kontroversif dan vulgar.

Tokoh Gatholoco dalam bukunya digambarkan sebagai sosok yang sangat buruk dan menjijikkan. Nama Gatholoco saja sudah memiliki arti yang sangat tabu yaitu “kelamin pria yang digosok”.

Gatholoco bukannya anti Islam, melainkan menggugat ketidak tuntasan pemahaman terhadap Islam.
Salah satu karya sastra jawa yang mengundang kontroversi yang seakan tak berujung adalah Serat Gatholoco, Sangking kontroversialnya sehingga pernah dilarang peredarannya.

Dalam Buku Kontroversi Serat Gatholoco (Perdebatan Teologis Penganut Kejawen dengan Paham Puritan) bukan membahas serat Gatholoco nya akan tetapi dalam buku ini menjelaskan apa yang di maksud dari serat Gatholoco secara ilmiah dan mendalam.

Pada awal Bab buku ini membahas falsafah hidup tokoh Gatholoco, inti dari karya sastra Jawa ini adalah tentang kebaikan, yang mana isinya menjelaskan keutamaan orang hidup bahwa orang hidup itu harus gemar perihatin dan jangan hanya asyik bersuka ria, tingkah laku sejati, kemudian seruan untuk jangan mengikuti godaan, jangan keras dan tamak serta hidup penuh kewaspadaan, jangan mencampur adukkan ajaran syariat dan hakikat pada orang awam karena itu dapat membingungkan, ahli syariat mengutamakan amal lahiriah dan ahli hakikat mengutamakan amal batiniah,

Dalam buku ini tidak hanya membahas spesifik mengenai Suluk Gatholoco, tetapi juga menjelaskan tentang beberapa serat dan kitab lainnya, seperti Serat Wedhatama, Suluk Sujinah, Suluk Gita Prabawa, Suluk Dharma Gandhul dan Kitab Bayanmani. Secara garis besar, sebenarnya semua karya sastra pujangga Jawa tersebut mengajarkan tentang kebaikan. Hanya saja beberapa orang terkadang salah mentafsirkan isi dari karya sastra tersebut, sehingga menimbulkan perdebatan.

Suluk Gatholoco, Suluk Sujinah, Suluk Darmo Gandhul dan Suluk Gita Prabawa, seperti hasil karya kitab-kitab suluk pada umumnya mengetengahkan ajaran yang berkaitan dengan empat tahap perjalanan yang harus dilalui manusia dalam upaya menuju kesempurnaan dirinya. Keempat tahap itu adalah syariat, tarekat, hakikat dan makrifat.

Kelebihan buku ini adalah memberikan pengetahuan bagi para para pembaca tentang arti hidup yang sebenarnya. Memuat tentang ajaran-ajaran yang baik untuk kehidupan. Sebenarnya karya sastra pujangga Jawa itu semuanya baik, namun karena ada beberapa pihak yang salah dalam penafsirannya, sehingga menjadikan kontroversi antara golongan Kejawen, golongan santri dan golongan priyayi. (Hes/Jw).

No comments:
Write comments