Thursday, May 4, 2017

Fenomena Pendidikan di Indonesia

    Thursday, May 04, 2017  

Oleh : Abdul Haris


Pendidikan pada masa kini sudah begitu banyak sekali cabang-cabang yang mengekorinya. Bahkan rasanya segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan manusia perlu sekali untuk diembel-embeli dengan kata pendidikan agar segala sesuatunya menjadi mudah. Sudah ada klasifikasi-klasifikasi dalam pendidikan. Ada pendidikan agama, pendidikan sosial, pendidikan etika, pendidikan alam, pendidikan ekonomi, pendidikan budaya, pendidikan politik, pendidikan kesehatan, pendidikan seni, dan masih banyak lagi jenisnya. Tiap item dalam pendidikan ini juga memiliki cabanya masing-masing.

Saat ini pendidikan sudah semakin maju, hal ini dapat dilihat dengan bagaimana anak usia dini sudah harus mengalami sebuah proses formalitas sebuah pendidikan, yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sistem dalam pendidikan pun sudah semakin canggih. Para bapak dan ibu guru sudah semakin kreatif dalam mengajar. Banyak anak usia dini juga yang saat ini sudah dijejali teknologi.

Dari kecanggihan ini munculah trend-trend baru dalam pendidikan. Seperti sekolah unggulan, sekolah modern, sekolah terpadu, ataupun sekolah taraf internasional. Kecanggihan ini juga berakibat pada karakteristik dalam pendidikan, misalnya seperti pendidikan khusus atau kejuruan. Semakin khusus pendidikan itu akan dianggap semakin canggih dan semakin berkelas.

Sebaliknya semakin umum pendidikan itu maka akan semakin dianggap tertinggal.
Pendidikan sekarang lebih berafiliasi pada status sosial, tepatnya pada kesejahteraan perekonomian hidup. Banyak orang yang kuliah mencari jurusan dimana mereka ketika lulus nanti dapat mudah untuk mencari pekerjaan.

Bahkan mereka menginginkan sudah ada jaminan kerja dari instansi-instansi tertentu sebelum mereka lulus. Sebenarnya ini tidak salah, sebab memang sejak kecil telah dilatih hal demikian. Mereka telah terdidik pola pikir hidup gengsi untuk memilih sekolah unggulan ataupun sekolah mewah.

Sebenarnya jika dilihat dalam kamus besar bahasa indonesia, pendidikan memiliki arti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan pribadi manusia. Sederhanya pendidikan harusnya menjadikan seseorang menjadi lebih beradab. Sebab disitu ditekankan pada "pengubahan sikap dan tata laku".

Namun jika kita lihat uraian di atas pendidikan terlihat lebih ditekankan pada proses menjadi atau merubah seseorang agar dapat melakukan sesuatu dengan mudah. Ini hampir sama dengan makna pelatihan, yaitu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cara atau proses belajar dan membiasakan diri agar mampu (dapat) melakukan sesuatu.

Jika dicontohkan, ini ibarat sekor singa yang di buat duduk oleh pawang dalam sirkus. Singa tersebut dapat dikatakan terlatih namun tidak dapat dikatakan terdidik, sebab singa tersebut tidak memiliki proses pengubahan pada etika atau moralnya.

Dalam tulisannya mengenai pendidikan, Ahmad Mustofa Bisri mengatakan bahwa proses pendidikan yang dipilah-pilah, dalam hal ini yang dimaksud adalah pendidikan khusus (kejuruan), akan membentuk pola pikir yang suka memilah-milah juga. Pada ahirnya sisi fisik akan terpisah dengan sisi metafisik.

Agama terpisah dengan dunia, pendidikan seakan-akan hanya untuk kepentingan dunia. Sehingga sikap manusia lebih senang dengan materi, lupa akan tujuan dasar pendidikan. Padahal sebagaimana tadi sudah ditegaskan pendidikan adalah suatu proses pengubahan fisik untuk membentuk serta memunculkan metafisik (etika).

Model pendidikan seperti inilah yang sebenarnya mengganggu otak manusia untuk berprilaku tidak normal. Menjadikan manusia untuk bersikap gengsi, suka memilah-milah, serta menjadikan manusia malas belajar dan malas membaca, sebab cita-cita utamanya bukan terdidik melainkan dapat mudah bekerja.

Inilah sebabnya saat ini banyak muncul perilaku-perilaku anomali yang menggelikan, seperti halnya melakukan suap agar mudah bekerja, menikung orang lain agar dirinya mudah mendapatkan keinginan yang dicita-citakan dan seterusnya. Belajar bukanlah hal yang penting lagi, sebab belajar tidak memberikan pengaruh apa-apa disini. Oleh sebab itu belajar hanyalah sebuah rutinitas yang membuang-buang waktu dan sia-sia.

Ketika penulis melihat pendidikan di Bojonegoro semakin maju, penulis merasa senang. Namun sebenarnya ada yang perlu dihawatirkan, yaitu saat ini banyak mahasiswa dibeberapa sekolah tinggi memilki minat belajar yang rendah terutama dalam hal membaca. Padahal jika kita menilik kembali sejarah para guru bangsa dalam hal membaca. Misalnya Mohammad Hatta pernah mengatakan "saya rela dipenjara asal bersama buku", atau Abdurrahman Wahid yang mengatakan "pendidikan saya bukan dari ilmu laduni, tapi karena semangat saya untuk membaca sampai-sampai mata saya rusak".

Para guru bangsa ini sebenarnya juga tidak memiliki riwayat pendidikan yang rapi dan jelas, rata-rata semua didasari dari semangatnya mencari ilmu dan banyaknya refrensi yang pernah dibaca. Kehidupan guru bangsa ini juga terbilang tidak hidup mewah bahkan berlebih-lebihan, rata hidupnya begitu sederhana. Inilah sebenarnya sosok pribadi tinggi.

Pendidikan membaca harusnya terus menerus digalakan pada masyarakat Bojonegoro. Agar para mahasiswa sekolah tinggi saat membuat tugas ahirnya tidak asal-asalan, jangan sampai copas materi dari internet kemudian hanya merubah judul dan tempat penelitiannya. Jika ini terjadi pada sarjana pendidikan, maka paatinya sangat disesalkan. Tidak hanya SDMnya yang harus diperbaiki, namun SDAya juga harus diperbaiki. Sedikit sekali toko buku yang ada di Bojonegoro.

Para mahasiswa terkadang juga harus lari keluar daerah untuk mencari buku materi tugas ahirnya. Pendidikan harus dikembalikan pada ruh dasarnya. Agar mampu mengubah jiwa seseorang menjadi beradab, tidak memisah-misahkan hubungan yang satu dengan lain, fisik yang seharusnya diperbudak batin, bukan batin yang diperbudak fisik. Itulah yang menjadi ruh pendidikan para guru bangsa.

Gubeng, Surabaya, 04 Mei 2017

Sumber foto: Foto galeri Arif Setiawan (fotografer jalanan solo)

No comments:
Write comments