Friday, May 5, 2017

HARDIKNAS UNTUK KANG SANTRI

    Friday, May 05, 2017  

Penulis: Moh.Muhajir 

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia mengalami sebuah perkembangan, fisik maupun perkembangan bioligis, semua potensi yang dimiliki manusia bisa dikembangkan dalam dunia pendidikan.

Menurut UU No 20 tahun 2003, pendidikan dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, pendidikan formal, sudah lazim kita ketahui bahwa pendidikan formal merupakan pendidikan yang ditempuh dibangku sekolah, dalam jejangnya dibagi menjadi empat; anak usia dini, dasar, menengah dan tinggi.

Kedua, pendidikan nonformal, pendidikan nonformal ini adalah pendidikan diluar jalur pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang, seperti TPQ dan MADIN. Ketiga, pendidikan informal, pendidikan informal merupakan pendidikan yang didapat anak dari lingkungan keluarga atau lingkungan sekitar (masyarakat).

Dari ketiga bagian pendidikan ini perlu sinergisme dalam penerapan di masyarakat. Dalam hal ini pemerintah daerah harus turut serta dalam menjembatani agar pendidikan formal, nonformal, dan informal bisa menjadi satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.

Mengutip portal Bangsaonline.com, Jum’at, (10/3/2017) Bahwa Pemkab Tuban akan mulai memberlakukan peraturan daerah (Perda) nomor 6 tahun 2016 tentang pendidikan akhlak mulia. Yakni dengan mewajibkan siswa sekolah dasar (SD) yang akan melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP) menyertakan tanda lulus atau syahadah Taman Pendidikan Al-Quran (TPA/TPQ).

Meski perda tersebut akan diterapkan bertahap, setidaknya pemerintah kabupaten Tuban sudah menjembatani agar pendidikan non formal terintegrasi dengan pendidikan formal. Dengan demikian i’tikad baik pemkab Tuban harus mendapat dukungan dari semua kalangan, seperti lembaga TPQ/TPA.

Adanya hari pendidikan nasional yang diperingati setiap tahunnya, tidak lepas dari sosok Suwardi Suryanigrat, pria kelahiran 2 Mei 1889 ini mengubah namanya menjadi  Ki Hajar Dewantoro, pria yang mengawali karirnya di bidak jurnalistik ini ternyata dulunya adalah seorang santri Kiai Sulaiman Zainuddin Prambanan, meski bapak/ibu guru kita dulu belum pernah bercerita bahwa Ki Hajar Dewantoro adalah seorang santri, kini kita bisa mengetahui bahawa Ki Hajar Dewantoro adalah seorang santri.

Zainul Bilal Bizawi, dalam bukunya Masterpiece Islam Nusantara menyebutkan. Ki Hajar Dewantara juga merupakan seorang santri. Dia menimba ilmu agama di kawasan Prambanan, Magelang. Hal itu juga tercatat di Sejarah Taman Siswa.

Tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara yang kini diabadikan sebagai Hari pendidikan nasional, merupakan bentuk penghargaan pemerintah atas jasa beliau dalam dunia pendidikan bangsa ini,  peringatan hardiknas yang biasa diperingati dengan upacara bendera, hal demikian identik bagi mereka yang berada di lembaga pendidikan formal.

Penulis belum pernah menjumpai ada lembaga nonformal seperti TPQ/TPA/MADIN yang mengadakan kegiatan dalam rangka hardiknas. Jika lembaga pendidikan formal memperingati hardiknas dengan kegiatan upacara, maka pendidikan nonformal perlu juga memperingati hardiknas dengan cara yang berbeda.

Meneladani dan mengingat kegigihan Ki Hajar Dewantara dalam upaya memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk memperoleh pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda perlu ditanampakan pada anak-anak dilembaga nonformal.

Semboyan pendidikan beliau yang berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, Jika kita amati merupakan nurani yang ada pada diri pendidik, baik pendidikan formal, nonformal atau informal. Ketiga komponen pendidikan yang sudah ada ini, jika kita padukan dan saling bersinergi, maka cita-cita para pendahulu yang termaktub dalam pembukaan undang-undang yang berbunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa” akan sangat mudah untuk di raih penerus bangsa ini.

Selamat hari pendidikan nasional 2017, dengan tema “Percepat Pendidikan yang Merata dan Berkualitas” mudah-mudahan pendidikan nonformal juga mendapat perhatian lebih dari pemerintah.



No comments:
Write comments