Tuesday, May 2, 2017

Mbok Mirah

    Tuesday, May 02, 2017  

Oleh: Abd Haris

Tahun ini beberapa kali sawah di hilir bengawan Solo terendam banjir, entah sudah beberapa kali sampai-sampai para petani pun sudah menganggapnya hal biasa. Sawah-sawah di bagian paling hilir bengawan Solo ini memang sering terjadi banjir tiap tahunnya, tak terkecuali juga di kampung Sarirejo. Kampung ini memiliki dataran rendah serta berada di daerah yang pelosok. Jika saat musim hujan datang, sawah ini akan seperti danau yang berlimpah air pucat berwarna coklat.

Apalagi saat daerah tetangga sedang hujan deras-derasnya, maka kampung ini akan jadi sasaran mulus tumpahnya arus air sebanyak-banyaknya, bahkan kadang-kadang sampai luber ke sudut pintu rumah mereka. Memang jika daerah tetangga, terutama daerah yang berada di bagian barat  atau orang-orang kampung sering menyebutnya daerah kulonan terjadi hujan, maka merakalah yang pertama kali harus menyingsing lengan baju dan sarung meraka dengan perasaan was-was sebab bakal gagal panen lagi.

Terlihat mbah mbah sepuh yang berusia tujuh puluhan sedang sibuk meyeret wineh (bibit padi) di atas terpal untuk dipindahkannya ke dataran yang lebih tinggi, sebab wineh yang rencananya besok mau ditanam gagal akibat hujan deras tadi malam menggenangi sawahnya.

Namaya adalah Mbok Mirah, di usianya yang sudah renta, kaki mengkerut dan ringkih itu nampak sempoyongan menyeret beberapa pocongan wineh di atas terpal. Pelan-pelan kakinya melangkah dalam air sambil sesekali menyingsing jarik yang ia kenakan, nampak air yang semakin keruh akibat bolak-balik dilewatinya, kadang Mbok Mirah harus gelesotan mendorong terpal yang kandas di pematang sawah. Terdengar alunan nafasnya yang cepat, serak dan kasar. Mbok Mirah nampak keletihan pagi hari itu, ia sesekali nglempoh istirahat sejenak untuk  mengatur nafasnya.

Sebenarnya Mbok Mirah seorang petani yang bersemangat. Bagaimana tidak, di usianya yang sudah beranjak tua bahkan sebenarnya sudah tak layak lagi di sawah, ia masih terbiasa mengurusi tetek bengek keperluan sawah.

Semenjak suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu, Mbok Mirah menggarap sawahnya sendiri. Nenek ini sudah terbiasa mengurusi sawahnya sendiri, kadang jika ada uang lebih ia sewa tenaga orang untuk membantu nyangkul, tandur (menanam padi), mupuk, serta keperluan-keperluan lain dalam bertani. Namun jika tak ada uang sama sekali terpaksa ia harus mengerjakannya sendiri. Pagi hari itu memang Mbok Mirah sedang kempes-kempesnya sakunya, sebab sudah beberapa kali tandur mati akibat terendam banjir beberapa bulan yang lalu. Cuaca dibeberapa bulan ini memang buruk, meskipun sebenarnya sudah bulan kemarau atau orang setempat menyebuntnya ulan tigo, namun hujan terus mengguyur bahkan tak jarang deras. Terpaksa pagi itu Mbok Mirah harus menyereti wineh sendiri, sebab uangnya sudah ludes untuk membayar tukang tandur besok.

Memang di kampung ini kadang ada hal yang tak terduga, seperti saat kejadian pagi hari itu. Ada saat para petani harus mengerjakan sesuatu secara bolak-balik, misalnya saat mereka tanam benih padi. Baru beberapa minggu padinya terendam banjir dan mati, mereka harus mulai menebar benih kembali, atau terkadang sudah tandur namun baru beberapa hari tanam kebanjiran, maka petani harus mulai dari awal lagi. Di kampung ini memang tidak ada bendungan, oleh sebab itu air dari bengawan sudah terbiasa nyelonong keluar masuk area persawahan tanpa permisi. Hari itu menjelang siang Mbok Mirah tampak begitu kelelahan, tubuhnya yang payah, ditambah ototnya yang sudah menonjol keluar nampak menjulur kemana-mana, direbahkan tubuh itu bersandar pohon pisang, tarikan nafasnya pelan dan panjang seperti susah untuk keluar. Dalam teduhan pohon pisang matanya hampa memandang arah jauh seakan-akan memikirkan sesuatu, nampaknya ia memang sedang memikirkan nasib hari esok. Sambil menarik nafas panjang yang kali ini sedikit dalam-dalam, hatinya berharap “semoga saja besok cepat surut airnya”.

**
Selain di sawah Mbok Mirah juga punya pekerjaan sampingan di rumah, ia membuka warung kopi yang dibangun sederhana di teras rumahnya. Warung ini adalah salah satu usaha Mbok Mirah untuk menyambung hidup saat sawahnya gagal panen. Mbok Mirah tinggal bersama cucu satu-satunya yang bernama tika. Cucunya sering membantu Mbok Mirah menyuguhkan kopi, kadang jika Mbok Mirah sedang repot di sawah, tika lah yang disuruh menunggu warung kopi itu. Namun sayang, meskipun kopinya adalah hasil olahan Mbok Mirah, jika tika yang meracik rasa kopinya berbeda tak seperti buatan Mbok Mirah sendiri. Begitulah beberapa komentar para pengunjung di warung. Di kampung itu kopi racikan Mbok Mirah memang terkenal nikmat, bahkan tak jarang orang dari kampung sebelah juga sering ikut nimbrung merasakan nikmat kopinya. Warung kopi ini akan ramai saat pagi hari sebelum orang-orang berangkat ke sawah dengan ditemani cemilan rondo royal (tape goreng) dan serabih, atau saat menjelang petang, tepatnya setelah isya’, orang-orang dari kampung akan berdatangan untuk sekedar mengisi penatnya setelah seharian mengurusi sawah. Tak hanya orang tua, banyak juga anak muda yang ikut nimbrung di warung, bahkan jika malam minggu atau orang-orang yang kerja serabutan sedang prei, warung itu akan penuh seabrek kaki sedang glesotan di teras.

Sambil ngopi, seringnya mereka senang ngobrol, entah sekedar membahas masalah sawah, masalah orang punya gawe (hajat), masalah hutang, ngaji, sepakbola, bahkan juga masalah politik. Banyak obrolan yang dapat diperbincangkan di warung, mulai dari obrolan serius sampai obrolan guyonan, berita hangat sampai yang terpanas, juga dari obrolan yang bermutu sampai obrolan yang tak bermutu babar blas semua dituangkan sedemikian ramainya.

Suasana warung kopi Mbok Mirah sudah bagaikan siaran televisi yang mengungkap segala macam kersak-kersik berita yang terjadi di kampung. Jika obrolannya menarik, mereka akan betah berjam-jam nongkrong di warung sampai rokok sebungkus yang dibawanya habis. Begitulah hiburan orang-orang kampung sekitar setiap harinya, bukan seperti para pejabat yang serius membahas masalah rakyat di cafe, dengan ditemani coffee mocca dalam cangkir cantik yang didandani gambar-gambar lucu di atas kopinya. Mereka juga bukan seperti orang-orang kota yang setiap minggunya pergi ke go fun untuk menjajali anak-anaknya menikmati wahana permainan yang asyik. Mereka hanyalah orang kampung, orang pedalaman yang setiap hari kegiatannya hanya berkutat pada masalah sawah dan ladang.

Malam itu Mbok mirah sedang duduk di dipan sambil mengaduk kopi pesanan pengunjung,
“Mbok, kopi satu..” suara Hadi yang sedang pesan kopi membuyarkan lamunan Mbok Mirah.

“walah kamu itu le, mengagetkan Mbok saja”
“nglamunin apa to Mbok..mbok..” Hadi bertanya sambil mringis
“gini lho di, Mbok ini besok mau tandur, perasaan besok juga tidak wasesasi, apa Mbok salah menghitung ya,,” Dalam kepercayaan orang Jawa, ada hari dimana memiliki sifat kemalangan. wasesasi adalah salah satu hari yang dianggap malang, dimana dalam satu bulan ada beberapa hari yang kurang baik untuk melakukan sesuatu (hari was-was). Ada beberapa hari yang dianggap orang Jawa sebagai pantangan, misalnya hari wasesasi, hari geblake (meninggalnya) simbah dan seterusnya.

 “halah Mbok, cuacanya sudah seperti ini kok masih ngitung hari”. Jawab hadi seasalnya.
“ngawur kamu, itu ilmu titen mbah-mbah dulu!! jangan disepelekan”. Orang jawa memang sudah terbiasa meyakini ilmu turun temurun dari leluhurnya inu, mereka percaya jika hal itu tetap dilakukan, maka akan mendapatkan sial.

Sambil meringis dan menunduk Hadi menjawab, “hehe maaf Mbok,, lha habisnya ini sudah musim tigo (kemarau) tapi kok ya hujan masih deras-derasnya”

“iya ya di, cuaca sekarang itu aneh, sulit ditebak, gak kayak jaman dulu” Mbok Mirah membenarkan Hadi sambil meneruskan bercerita, “dulu itu gampang sekali mengetahui musim tigo (kemarau) sama musim rendeng (hujan), dulu mbah-mbah itu hafal kalau bulan ini sampai bulan ini musim tigo, terus bulan setelahnya musim rendeng, jadi para petani gak kecelik mau nanem padi. Lha ini malah kebolak-balik musimnya, petani jadi bingung, musim tigo jadi musim rendeng. Ndunyone wis bedo di,, (dunianya sudah berbeda di,,)”

“cuacanya gak jelaspun sebenernya bisa panen Mbok jika ada bendungan” sahut lek Jono yang dari tadi sudah pingin ikut ngobrol.
“nah.. betul lek Jono itu Mbok, Pak Bupati suruh sini saja, kan dulu pernah kesini” timpal Hadi yang semakin girang ngobrol.

“hahahaha” sambil menyeruput kopinya lek Jono ketawa mendengar komentar Hadi, “betul di, biar Pak Bupati tahu kondisi kampung kita, ya kalau enggak gitu ya masak tidak kangen sama Mbok’e, ya enggak Mbok..??”

“halah kamu itu di, kok ngarang seenaknya saja, ya enggak mungkin to..” jawab  Mbok Mirah sambil mesam-mesem. Memang dulu pak Bupati pernah sekali ke warung kopinya Mbok Mirah saat masih mencalonkan, itupun sudah lama sekali saat periode pertamanya, sekarang sudah ahir periode keduanya.

“lha iya, dulu saya juga dengar di warung ini, yang katanya beliau mau membangun daerah ini melebihi Lamongan.” celetuk kang Tarjo sedang ngopi di atas dipan yang dari tadi asyik mendengarkan obrolan.

“lha itu kan dulu to kang” jawab lek Jono santai, “sekarang jamannya ya sudah beda, lha wong sudah tidak nyalon”

“lhoo sampean-sampean ini apa enggak lihat kemajuan daerah kita sekarang toh, kita punya sumber minyak, sudah bangun tempat-tempat wisata, jalan pun sudah banyak yang diperbaiki. Lho apalagi?? Menurut pengamatan saya daerah kita ini sudah maju kang.” Timpal Hadi yang gayanya sok akademis.

“kan Lamongan itu terkenal usaha budidaya ikannya toh, ya mungkin kampung kita seperti ini oleh pak Bupati mau dijadikan kampung kolam ikan, biar bisa menyaingi Lamongan.” Lanjut komentar Hadi yang semakin semangat nyerocos.

“hus.. sudah, sudah!!, jadi minta dibuatin kopi enggak ini?” sahut Mbok Mirah yang mencoba mengahiri obrolan. “ini tadi bahas tandur kok malah jadi ngobrolnya kemana-mana”.
“hehe,, jadi Mbok, agak pahit ya Mbok”. Jawab Hadi sambil garuk-garuk kepala.

Pukul 10 pun telah berlalu, ahirnya Mbok mirah menutup warungnya, ia meracuti cangkir-cangkir, asbak  serta putung rokok yang berserakan di teras dan dipan. Tika pun ikut membantu membereskannya, dicucinya cangkir-cangkir yang kotor itu agar bersih kembali, kemudian ia taruh pada tempat semulanya yaitu di rak dapur. Malam itu Mbok Mirah tampak begitu letih, sebab setelah paginya menyereti wineh (bibit pohon padi), malamnya harus membuka warung kopi. Direbahkan tubuhnya malam itu di atas tikar seadanya, sambil berbaring pikiran Mbok Mirah menjelajah kembali pada obrolan tadi bersama Hadi, lek Jono, dan kang Tarjo. Dalam hati ia berbicara.

“apa mungkin bener ya tadi yang dikatakan Hadi, kampung ini akan dijadikan tambak ikan, wah pastinya enggak bakalan mungkin, bisa-bisa kualat sama orang tua, hidup tani kan sudah sejak dulu turun temurun dari orang tua. Terus kalau tidak mau tani mau makan apa lha wong hanya orang kampung, tapi harus bagaimana lagi lha ini sudah setahun enggak panen, masak tahun ini mau enggak panen lagi. Apa bener kata lek Jono ya, memang jamannya yang sudah berubah. Terus harusnya siapa ini yang harus disalahkan? Masak mau menyalahkan Gusti Allah, wah bisa dosa besar saya. Terus siapa, masak pak Bupati, atau saya sendiri ya. Ah mungkin manusianya sendiri yang kurang akrab dengan alam, jadi gak paham maksud alam bagaimana. Walah pikiran saya kok jadi kelayapan begini, sudah sudah ini malah enggak tidur-tidur nanti.

“cetek” tika mematikan lampu kamar Mbok mirah yang dari tadi sudah tidur dan lupa mematikan lampunya.

Sarirejo, Bojonegoro, 1 Mei 2017.

No comments:
Write comments