Tuesday, May 2, 2017

Membangun Karakter Bela dan Beli Bojonegoro

    Tuesday, May 02, 2017  

Oleh : H.Sutrisno

Di era globalisasi saat ini, dimana disatu sisi memberikan manfaat positif bagi bangsa, namun di sisi lain telah menimbulkan keresahan yang dialami oleh seluruh anak bangsa. Tanpa disadari potret ekonomi Indonesia saat ini menghadapi kenyataan bahwa 80 % pasar tekstil telah dikuasai oleh asing, 95 % produk air minum dan 92 % industri teknologi hampir seluruhnya dikuasi oleh asing.

Apalagi setelah munculnya CAFTA (China-Asean Free Trade Area),dimana produk asing dari China bebas masuk di Indonesia. Sehingga anak-anak bangsa semakin sulit berusaha di negara sendiri. Menjual menjadi sesuatu yang sulit dilakukan oleh bangsa sendiri di negeri sendiri, karena kuatnya dominasi pemain asing. Para pengusaha berguguran setiap hari.

Hal ini diperparah dari data AC Nieilsen, bahwa Indonesia tercatat sebagai negara paling konsumtif nomor dua di dunia setelah Singapura. Itulah salah satu faktor pendukung Indonesia menjadi surga bagi produk asing yang membanjiri produk luar dan menggeser produk lokal.

Berangkat dari inilah seharusnya jiwa nasionalisme kita terusik. Mengapa produk asing sangat bebas menguasai kehidupan kita sementara produk lokal dan pemain lokal tidak tumbuh bahkan terus mati?. Karena kita memang tidak memiliki sesuatu yang jelas untuk kita bela. Seharusnya kita membela kejayaan bangsa sendiri daripada membela kejayaan bangsa lain. Maka sekaranglah kita harus membangun dan membela negeri sendiri. Dimulai dengan membeli produk buatan sendiri. Dan inilah pertahanan terakhir menghadapi gempuran produk asing ke tanah air.

Dari kacamata otonomi daerah saat ini, setiap daerah berlomba-lomba untuk membangun dan memajukan daerah masing-masing. Banyak pemerintah daerah membuka investasi dengan mengundang baik pengusaha dalam negeri maupun asing untuk berinvestasi ke daerahnya. Hanya satu tujuannya, yaitu membuka lahan ekonomi seluas-luasnya demi tercapainya peningkatan pendapatan daerah dan kesejahteraan.

Namun banyak dilupakan usaha mereka yang sangat tidak melindungi para pelaku ekonomi lokal. Pemangku kebijakan menerapkan iklim pasar bebas sehingga siapa yang memiliki modal kuat, dialah yang menguasai konsumen. Sebagai contoh kecil, dibiarkannya supermarket-supermarket berkeliaran dimana-mana sampai menembus desa. Tetapi pedagang di pasar tradisional dibiarkan tanpa adanya pembinaan yang konkret. Hal inilah yang menimbulkan tergusurnya pelaku ekonomi lokal dari pengusaha asing.

Bojonegoro, sebagai salah satu daerah yang menginginkan pembangunan ekonomi tidak luput juga dari “serangan” produk asing. Apalagi daya tarik Bojonegoro sebagai salah satu penghasil minyak terbesar di Indonesia mampu menjadi primadona untuk berinvestasi di daerah ini. Namun kita dapat mempertanyakan, apakah investor-investor tersebut adalah orang asli Bojonegoro?, yang membela kepentingan masyarakat Bojonegoro?, yang mengakomodir kebutuhan penduduk lokal Bojonegoro?.

Pada saat ini diperlukan babak baru, dimana kebangkitan ekonomi Bojonegoro harus dilakukan oleh masyarakat Bojonegoro. Sumber daya ekonomi Bojonegoro sedapat mungkin dikuasai oleh masyarakatnya sendiri. Dan rasanya ini tidaklah berlebihan untuk dapat diwujudkan.

Disadari bahwa Bojonegoro tidak dapat hanya mengandalkan minyak menjadi sumber daya ekonomi. Regulasinya memang mengatur bahwa sumber daya minyak adalah wewenang pemerintah pusat. Bojonegoro hanya mampu mendapatkan melalui “dana sharing” saja.

Untuk itulah pengembangan sektor ekonomi lainnya, yang lebih berdampak langsung dengan masyarakat diperlukan pengawalan ketat untuk di bela. Produk-produk asli Bojonegoro harus mampu menguasai pasar di Bojonegoro bahkan keluar daerah. Keberbihakan kepada pelaku ekonomi Bojonegoro harus sedapat mungkin dilakukan.

“Apakah mereka kalah kualitas ?, apa betul tidak bisa bersaing ?. Yang pasti mereka menunggu pembelaan.”

Diperlukan adanya sebuah gerakan untuk membela dan membeli Bojonegoro. Gerakan ini adalah gerakan kesadaran dan penyadaran dari, oleh dan untuk seluruh komponen warga Bojonegoro untuk membeli produk Bojonegoro, membela martabat dan kejayaan Bojonegoro serta menghidupkan semangat persaudaraan sesama warga Bojonegoro.

Membeli produk Bojonegoro bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah, tetapi karena milik Bojonegoro sendiri. Membela Bojonegoro adalah sikap yang jelas dalam membela martabat Bojonegoro dan membela kejayaan Bojonegoro. Menghidupkan semangat persaudaraan adalah bahwa aku ada untuk kamu, kamu ada untuk aku, kita ada untuk tolong menolong.

Rekomendasi nyata yang dapat dilakukan, yaitu pertama meminta kepada seluruh organisasi, tokoh masyarakat, ulama dan pemimpin agama untuk membangkitkan semangat perjuangan “Beli Bojonegoro” dengan cara memberikan pemahaman kepada anggota dan jamaahnya bahwa membangun ekonomi Bojonegoro adalah tanggung jawab kita sebagai warga Bojonegoro. Selalu mengingatkan agar membeli produk Bojonegoro. Memberikan keteladanan dengan menggunakan produk Bojonegoro dan mendorong pembuatan produk sendiri.

Kedua, meminta pihak legislatif dan eksekutif menghidupkan sikap pembelaan terhadap produk Bojonegoro dengan memprioritaskan pembelian produk Bojonegoro untuk semua pembelanjaan daerah. Mendorong berkembangnya pasar tradisional dan mengendalikan pertumbuhan pasar modern. Memberikan pemahaman dan teladan kepada jajaran pemerintahan tentang pentingnya membela dan membeli produk lokal. Menciptakan kehidupan murah dan memberikan penyederhanaan perijinan sektor swasta.

Ketiga, meminta setiap keluarga terutama ibu rumah tangga untuk mengutamakan belanja di warung, toko atau pasar tradisional. Dan keempat, meminta kepada pelajar dan generasi muda untuk bangga menggunakan produk Bojonegoro dan belajar sejak dini kewirausahaan serta berani untuk berjualan.

Gerakan Beli Bojonegoro ini bukanlah sekedar wacana, bukan sloganistik dan bukan pula gebyar sesaat. Gerakan Beli Bojonegoro bukan sekedar pencitraan semata. Gerakan ini adalah gerakan membangun karakter. Gerakan Beli Bojonegoro adalah keniscayaan selama adanya good will dari pemerintah daerah dan warganya. Gerakan Beli bojonegoro adalah gerakan nyata menumbuhkan ekonomi kerakyatan di Bojonegoro. (jw/lis).

No comments:
Write comments