Sunday, May 21, 2017

Perempuan Muhammadiyah Nasyiatul 'Asyiah Gelar Aksi Damai di Alun-alun Bojonegoro

    Sunday, May 21, 2017  

Reporter: Iwan Zuhdi

suarabojonegoro.com -  Pagi ini, Minggu (21/5/17) Pengurus Daerah (PD) Organisasi Perempuan Muhammadiyah Nasyiatul 'Asyiah (NA) Kabupaten Bojonegoro menggelar Aksi damai di seputaan Alun-alun Bojonegoro. Aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian adanya kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Aksi yang dimulai pukul 06.00 - 08.00 WIB ini diikuti kurang lebih 70 perempuan Muhamadiyah dari 11 pereakilan pengurus Kecamatan. Perempuan yang mayoritas memakai hijab berwarna kuning itu melakukan aksinya dengan membagikan selebaran dan bunga kepada pengunjung Alun-alun saat car free day (cfd).

Dr Diana Kawulaningsari, M.MKes selaku Kordinator aksi usai aksi mengatakan, aksi kali ini dinamakan aksi damai 215 yang dilakukan serentak secara Nasional oleh Perempuan Muhammadiyah Nasyiatul 'Asyiah.

Tujuan organisasi Perempuan Muhammadiyah Nasyiatul 'Asyiah (NA) Kabupaten Bojonegoro melakukan aksi ini dikarenakan banyaknya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, baik itu kekerasan fisik maupun penyimpangan seksual.

"Kebanyakan korban tidak bisa dan mau mengadu. Bahkan ada beberapa kasus penyelesaiannya hanya dibayar dengan hukum adat saja, sehingga susah untuk memberikan efek jera kepada pelaku tindak kekerasan maupun pelecehan", jelas perempuan berhijab itu.

Dalam selebaran yang dibagikan kepada peserta CFD pagi itu menyebutkan, data komnas perempuan menjelaskan bahwa angka kekerasan terhadap perempuan sejak 2010 terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk tahun 2015 jumlah kasus meningkat sebesar 9% dari tahun 2014.

Menurutnya Angka ini adalah jumlah kasus yang dilaporkan, sedangkan yang tidak dilaporkan mungkin bisa lebih tinggi seperti halnya fenomena gunung es Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)/ Ranah Pribadi (RP) yang mencapai angka 11.207 kasus (69%) dan kekerasan di ranah komunitas mencapai angka 5.002 kasus (31%). KDRT/RP ini meliputi kekerasan fisik (38%), kekerasan seksual (30%), psikis (23%) dan ekonomi (9%).

Sedangkan, kekerasan di ranah komunitas meliputi kekerasan seksual (63%), fisik (22%) dan psikis (4%), ekonomi (1%), buruh migrant (2%); dan tratiking (8%). Dan Jawa Timur termasuk provinsi paling rawan kekerasan terhadap perempuan.

Sementara itu, kasus kekerasan terhadap anak juga semakin meningkat. Data Kementerian Sosial mecatat, lima provinsi yang tertinggi kasus kekerasan seksual terhadap anak dengan urutan pertama di lawaTimur.

Sejak tahun 2014 hingga 2016 ini, setidaknya terdapat 188 kasus di tahun 2014, 561 kasus di tahun 2015 dan tahun 2016 hingga bulan Maret ini, sudah tercatat ada sebanyak 105 kasus yang terjadi.

Diana sapaan akrab Direktur Rs Muhamadiyyah Kalitidu itu berharap, kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa di tangani dengan serius. Agar perempuan dan anak bisa mendapatkan perlindungan yang aman. (wan/red).

No comments:
Write comments