Jumat, 26 Mei 2017

Ramadhan Opera Agamis Masyarakat Modern

    Jumat, Mei 26, 2017  

Oleh: Abdul Haris

suarabojonegoro.com -  Setelah beberapa bulan kemaren warga Indonesia merayakan pilkada yang cukup dramatis, besok hari selanjutnya masyarakat khususnya warga muslim akan merayakan ramadhan. Hal ini pastinya tidak akan lebih kalah meriah, sebab sebulan penuh warga muslim akan melakukan ritual agamis dengan penuh pendalaman. Biasanya seminggu sebelumnya, sudah dipersiapkan segala kebutuhan untuk menyambutnya. Semua akan dimeriahkan sedemikian rupa sudah layaknya seperti pertunjukan opera.

Sebagaimana sebuah opera, pastinya ada tokoh yang memerankannya. Tokoh protagonis akan diperankan oleh para muslim yang baik dan taat. Ini adalah para jamaah shalat tarawih musiman, tim tadarusan dadakan, serta para ustadz tiban. Mereka ini akan dipuji dan disanjung setiap harinya. Sedang tokoh antagonis akan diperankan oleh para muslim abangan. Ini adalah para kuli bangunan, supir angkutan umum, serta penunggu warung pinggir jalan. Merekalah yang akan dibully tak henti-hentinya. Adapun tokoh tritagonis, ini akan diperankan oleh para santri pinggiran yang tak terekspos, serta para kiyai kampung yang banyak berperan dibelakang layar. Mereka inilah tokoh yang perannya terlihat asing, bahkan cenderung tak terhiraukan.

Kostum yang akan dikenakan ialah gamis, jubah, mukena, baju koko, serta sarung dan pecis. Akan ada juga atribut yang akan mempercantik perannya, ini misalnya seperti al-qur’an terjemahan dengan huruf latin yang fontnya besar-besar, foto agamis yang akan dijadikan profil facebook, kata-kata bijak, ataupun meme ramadhan yang bisa diunggah di instagram. Kemudian setting panggung bisa dibuat di tempat ngabuburit, tempat buka puasa serta tempat shalat tarawih. Ini adalah tempat-tempat yang paling diminati masyarakat. Musik yang mengiringinya adalah lagu shalawat dan lagu religi yang tenar saat itu. Iklanpun akan terpasang berderet di pinggir jalan, seperti iklan sirup, aneka biskuit, serta iklan obat sakit lambung. ini semua merupakan instrumen penting dalam pertunjukan.

Alur cerita harus diperhatikan, sebab cerita inilah yang akan membuat menarik tidaknya sebuah pertunjukan. Skrip budaya biasanya akan bercerita perihal pengiriman kata maaf-maafan lewat pesan atau media sosial. Skrip sosial biasanya bercerita tentang sweeping warung pinggir jalan serta tempat-tempat maksiat. Skrip ekonomi akan bercerita tentang pembelian kebutuhan pokok besar-besaran.

Ini diperlihatkan lewat persiapan membeli beberapa pakaian sebelum ramadhan serta membeli berbagai jenis makanan sebagai hidangan buka puasa. Dari skrip politik akan bercerita tentang pemasangan sepanduk para politikus dengan tulisan ucapan selamat menyambut ramadhan. Sedang skrip ilmu pengetahuan dan teknologi bercerita tentang ulasan-ulasan tentang puasa serta update tempat yang menarik untuk dikunjungi. Adapun skrip hukum (fikih) bercerita tentang keutamaan dan pahala berpuasa. Biasanya sang aktor ustadz tiban akan menjelaskan jumlah pahalanya yang bertumpuk-tumpuk itu.

bagi warga muslim, ramadhan adalah bulan yang mulia. Tak heran jika mereka sangat menunggu-nunggu kedatangannya. Jika dilihat belakangan beberapa tahun ini ramadhan serasa berbeda dengan ramadhan dulu.  Iya memang sebab masyarakat sekarang lebih maju dan modern, banyak kehidupannya yang didukung oleh teknologi canggih. Namun jika dlihat kembali memang ramadhan nampak berbeda, terutama dalam hal rasa dan subtansi. Entah sejak kapan skrip ini (ramadhan) direvisi alur ceritanya, bahkan cenderung digubah isinya.

Jika kembali melihat sejarah, pada dasarnya kewajiban puasa ramadhan adalah pada bulan sya’ban tahun kedua hijriyah, yaitu berdasarkan atas turunnya surat al-baqarah ayat 183, kemudian juga beberapa hari setelahnya terjadi perang badar (Imam Muhammad Ibn Isma’il, 1992). Dapat dilihat bahwa dalam hal ini ada dua aktifitas yang besar saat itu, yaitu puasa dan jihad. Ini seharusnya menjadi refleksi bagi masyarakat sekarang agar tidak menjadikan ramadhan hanya sekedar sebagai sebuah ritual perayaan.
Budaya maaf-maafan sebelum ramadhan memang sudah dilakukan sejak dulu di Nusantara.

Dalam budaya masyarakat Jawa dikenal dengan tradisi sadranan. Tradisi ini adalah tradisi dimana berkumpulnya keluarga atau berkumpulnya orang banyak untuk melakukan ziarah kubur. Tujuan dalam tradisi ini ada dua hal yaitu, pertama bertemunya keluarga yang jauh atau bertemunya masyarakat untuk bersilaturrahmi dan maaf-maafan sebelum ramadhan. Kedua, memohon maaf (ampunan) kepada Tuhan untuk sanak keluarga yang sudah meninggal (Purwadi, 2006). Namun tradisi ini sudah mulai memudar, beberapa masyarakat sudah mulai meninggalkan dan memanfaatkan teknologi untuk bersilaturrahmi.

Sebentar lagi juga masyarakat akan melihat aksi heroik yang akan dilakukan oleh salah satu ormas Islam di Indonesia. Mereka akan melakukan sweeping di warung dan tempat-tempat lain sebelum ramadhan. Aksi ini sebenarnya diperbolehkan saja, namun jangan menggunakan kekerasan dan sikap premanisme. Aksi premanisme dalam sweeping warung ini sebenarnya justru akan mencerminkan wajah Islam yang negatif di masyarakat. Dalam hal hubungan sosial hendaknya masyarakat bersikap ramah dan toleran terhadap masyarakat lain, apalagi di bulan puasa. Al-qur’an telah memberikan perhatian yang nyata terhadap sikap saling menghargai, menghormati keragaman budaya dan perbedaan kebebasan berekspresi, termasuk dalam berkeyakinan (Zhairi Misrawi, 2007).

Secara ekonomi aktifitas puasa akan mengurangi kebutuhan. Jika dinalar seseorang yang seharusnya makan tiga kali setiap hari akan berkurang menjadi dua kali tiap hari. Ini pastinya tingkat kebutuhan seseorang akan semakin menurun. Namun hal demikian ternyata tidak berpengaruh di bulan puasa, justru kebutuhan masyarakat malah semakin meningkat. Banyak orang yang saat berbuka puasa menu makanannya memenuhi meja, berbagai ragam makanan terdapat disana.

Padahal jika dilihat al-qur’an telah menegaskan bahwa “makan dan minumlah, dan janganlah berlebih lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” (al-A’raf: 31). Selain itu bahwa sekarang seakan sudah menjadi tren sebelum ramadhan harus membeli baju-baju untuk keperluan puasa. Berpuasa semestinya membuat seseorang belajar hidup sederhana bukan sebaliknya.

Ramadhan menjadi kesempatan untuk siapapun berbuat kebaikan. Kesempatan ini juga tidak disia-siakan oleh para politikus. Gambar-gambar mereka kerap kali meramaikan jalanan tiap bulan puasa. Banyak yang mengucapkan selamat menyambut bulan puasa, namun dengan motif sedang “mencalon”. Hal demikian sebenarnya sah-sah saja dalam berpolitik.

Rasulullah bila tiba bulan Ramadhan (sebelum menjadi Rasul) menggunakan kesempatan itu untuk ber-khalawat dan bertafakur sambil berpuasa di Gua Hira, untuk memperoleh ketenangan, kejernihan dan inspirasi berpikir, untuk memikirkan kondisi masyarakat. Bagaimana menata, mengatur, serta menyusun kembali dengan baik dan benar (Sismona BA, 2000). Para politikus seharusnya juga demikian, sebagai calon pemimpin, puasa baiknya dijadikan waktu untuk berpikir dan menata kembali pribadinya agar benar-benar sesuai dengan tujuan, yaitu mensejahterakan masyarakatnya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi pada dasarnya menjadikan manusia tahu, cerdas dan beretika. Namun kemajuan teknologi justru membuat yang diharapkan berbeda. Dalam kaitannya dengan ramadhan, masyarakat diharapkan tidak lagi menyebarkan informasi- informasi fitnah (hoax) di media-media sosial. Berpuasa harusnya menjaga segala macam hal yang membatalkan, salah satunya adalah menebar kebencian. Selain itu tradisi copy paste (menyalin) postingan tentang ramadhan tanpa memahami betul-betul maksudnya harus dihindari. Misalnya dalam hal hukum (fikih), kewajiban di dalam agama dapat benar-benar dipahami jika para penyampainya memahami teks serta konteks masyarakat saat itu.

Pembodohan akan terus berlanjut jika hanya disampaikan begitu saja seperti apa teksnya, bahkan hal ini terkadang akan memunculkan kontra di masyarakat (Fazlur Rahman, 1998). Tradisi penyampaian teks ramadhan secara copy paste akan memunculkan budaya ramadhan fisik, masyarakat enggan memahami dan mendalami ramadhan dengan sepenuhnya.

Ramdahan sebagai opera agamis harusnya menjadi sebuah drama yang mendalam, tidak hanya sekedar tradisi perayaan. Para tokoh dan aktor harus merevisi kembali alur cerita sebagaimana mestinya, memahami betul isi dari skrip (naskahnya), sehingga mereka benar-benar mendalami perannya. Pada salah satu stasiun televisi pernah terdapat acara komedi opera Jawa.

Acara ini banyak di minati masyarakat sebab para tokoh pemerannya lucu. Banyak masyarakat hanya ingat tentang kelucuan dan kekonyolan tokohnya, namun mereka tidak tahu isi dari ceritanya. Opera ramadhan pastinya juga akan mengalami demikian, menjadi sebuah ritual yang lucu dan konyol jika para tokohnya tidak memahami isi ceritanya.

Ramadhan tidak bisa hanya dijadikan sebagai ritual kulit, di mana hanya meriah dan megah diluarnya, namun isinya tidak karuan alurnya. Menurut Quraish Shihab puasa yang dilakukan umat Islam digaris bawahi oleh Al-Quran sebagai ”bertujuan untuk memperoleh taqwa”. Tujuan tersebut tercapai dengan menghayati arti puasa itu sendiri.

Memahami dan menghayati arti puasa memerlukan pemahaman terhadap dua hal pokok menyangkut hakikat manusia dan kewajiban di bumi, Pertama, manusia diciptakan Allah dari tanah, kemudian dihembuskan kepadaNya ruh ciptaanNya dan diberi potensi untuk mengembangkan dirinya hingga mencapai satu tingkat yang menjadikannya wajar untuk menjadi khalifah (pengganti) Tuhan dalam memakmurkan bumi ini.

Kedua, manusia harus berdasarkan menurut “petanya” yaitu berdasarkan kadar Kebutuhan fisiologisnya, seperti makan, minum, hubungan suami istri. Ini merupakan kebutuhan paling mendasar yang harus terpenuhi dulu sebelum menginjak kebutuhan berikutnya, bila seseorang dapat mengendalikan kebutuhan dasarnya maka akan mudah mengendalikan kebutuhan yang lainnya (Quraish Shihab, 1998).

Mengenai masalah manusia harus berdasarkan petanya, para aktor opera ini pun juga harus sesuai dengan kapasitasnya dalam berperan. Sebab drama akan menjadi rancu jika para aktor bebas memerankan sesukanya. Bagaimana tidak para aktor sejatinya memiliki peran masing-masing. Tokoh antagonis tidak bisa mengambil haknya protagonis, sebab kapasitasnya adalah diperan itu.

Jika dicontohkan dalam drama wayang, tokoh arjuna haknya adalah menggunakan panah, jika ia memaksa menggunakan tombak maka akan rancu cerita tersebut. Oleh sebab itu masyarakat harus tahu kapasitasnya sebagai pelaku ramadhan, jangan berkhotbah jika bukan kapasitasnya berkhotbah, jangan berfatwa jika bukan kapasitasnya berfatwa, serta jangan menghkum jika bukan kapasitasnya menghukum, sehinnga semua menjadi tidak rancu alur ceritanya serta tidak mengganggu hak-hak orang lain yang juga sedang melaksanakan perannya.

Begitulah harusnya alur cerita dalam sebuah opera, agar epilognya benar-benar dipahami dan mengena penontonnya. (*)

Tidak ada komentar:
Write komentar