Monday, May 15, 2017

Ratusan Hektar Lahan Bekas Galian C Butuh Reklamasi, SDA Bojonegoro: Ini Bahaya

    Monday, May 15, 2017  

Reporter: Iwan Zuhdi

suarabojonegoro.com -  Lahan bekas tambang galian jenis c di Bojonegoro hingga saat ini masih dibiarkan begitu saja. Seolah-olah para pemilik tambang tak ada niatan untuk melakukan reklamasi. Padahal, sesuai dengan surat keputusan Bupati Bojonegoro terkait dengan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) disebutkan, pemilik tambang wajib melakukan reklamasi.

Terhitung, terdapat ratusan hektar lahan bekas galian yang sebelumnya telah dilakukan eksploitasi besar-besaran guna mendukung adanya mega proyek yang ada di Kota Ledre ini.

Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mencatat, terdapat 13 lokasi lahan bekas galian yang sebagian besar merupakan galian dengan material tanah urug tersebut.

Dedy Kurniawan, Kasubag sumberdaya alam Bagian SDA Pemkab Bojonegoro mengatakan, pihaknya mengaku tak bisa berkutik, jika mau menagih kewajiban reklamasi, sebab sebelumnya para pemilik izin IPR tidak menyertakan jaminan berharga.

"Padahal ini bahaya, bisa merusak lingkungan, menggangu ekosistem," katanya saat ditemui diruang kerjanya pekan lalu.

Pihaknya mengaku pernah mencoba menagih kewajiban reklamasi tersebut, namun para pemilik tambang berdalih jika reklamasi telah disanggupi oleh pembeli material. Dan saat itu material dipergunakan untuk kebutuhan material proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi (Engineering, procurement, and constructions/EPC) Banyuurip, Blok Cepu. Mega proyek tersebut dioperatori oleh perusahaan asal Amerika Serikat, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

"Pihak Exxon sanggup kok," cetus Dedy menirukan ucapan salah satu pemilik tambang galian c di Malo.

Pemkab Bojonegoro hingga saat ini terus melakukan koordinasi terkait reklamasi tersebut. Berbagai pihak telah diajak berkomumikasi. Sampai-sampai Bagian SDA bakal membentuk tim khusus yang nantinya bakal mengkaji kegiatan tambang yang ada di Bojonegoro.

Data yang dihimpun suarabojonegoro.com dari Bagian SDA Pemkab Bojonegoro menyebutkan, ratusan hektar lahan yang butuh peremajaan tersebut meliputi, lahan milik Randi seluas 10,004 ha, jenis pasir dan tanah urug yang berlokasi di Desa Tebon, Wahyu Isnin Yunarto seluas 8.812,00 ha (tanah urug) di Desa Kalirejo Kecamatan Malo, Solikin seluas 8.353,00 ha (tanah urug) di Desa Katileng Kecamatan Malo, Hermfry seluas 9.587,00 ha (pasir) di Desa Tebon Kecamatan Padangan, Siyo Susiyono seluas 10.059,00 ha (pasir) di Desa Tebon Kecamatan Padangan, Abdul Rochim seluas 9.059,00 ha (pasir) di Desa Tebon Kecamatan Padangan, Choirul Anas seluas 10.000,00 ha (pasir) di Desa Tebon Kecamatan Padangan.

Selanjutnya, Edo Suwito seluas 9.814,00 ha (tanah urug) di Desa Ketileng Malo, Widiarto seluas 9.772,00 ha (tanah urug) di Desa Malo Kecamatan Malo, Carinanik seluas 5.525,00 ha (tanah urug) di Desa Malo Kecamatan Malo, Munarto seluas 9.034,00 ha (tanah urug) di Desa Donan Kecamatan Purwosari, Maryono seluas 9.330,00 ha (pasir) di Desa Sambeng Kecamatan Kasiman, dan Mursid dengan lahan seluas 9.999,00 ha (tanah urug) di Desa Donan Kecamatan Purwosari.(wan/red).


Foto: dok. Suarabojonegoro

No comments:
Write comments