Minggu, 21 Mei 2017

Sasi Ruwah: Makan Apem Kenyang Sejarah

    Minggu, Mei 21, 2017  

M. Agus Wahyudi
(Darul Afkar Institute Klaten Jawa Tengah)

SETIAP BULAN  sepertinya mempunyai keutamaan tersendiri, salah satunya keutamaan bulan sya’ban yang jika dalam Jawa disebut sasi ruwah sudah beredar di mana-mana. Bulan sya’ban adalah bulan kedelapan dalam kalender hijriah. Jika dalam sejarah bulan sya’ban dapat diartikan sebagai pemisahan, karena orang-orang Arab zaman dulu pada bulan ini berpisah dan berpencar untuk mencari air.

Dalam Jawa sasi ruwah juga sering disebut dengan ”bulan arwah”. Bulan dimana  saat untuk melakukan sebuah ritual dengan cara mengingat dan menghormati para leluhur yang sudah mendahului mereka masuk alam kubur dan bersemayam.

Dari sini nanti akan terlihat sebuah sikap saleh individual dan saleh sosial dalam memaknai tradisi pada bulan sya’ban atau sasi ruwah. Karena sebuah tradisi merupakan pewarisan serangkaian kebiasaan dan nilai-nilai yang diwariskan dari suatu generasi kepada generasi berikutnya (Isyanti, 2007).

Sudah seharusnya kita sebagai generasi muda agar selalu menjaga tradisi tanpa lupa mencari dan memahami sejarah yang ada di dalamnya, agar kita tidak seperti burung beo bisa bicara namun tak memahami apa yang diucapkan, jangan sampai kita bertindak namun kita tidak memahami apa yang kita tindakan.

Pengidap penyakit buta sejarah lah sebenarnya yang jadi masalah.
Pada bulan inilah terdapat tradisi yang secara umum dilakukan oleh  masyarakat salah satunya “resik-resik” dan “sadranan”. Resik-resik adalah membersihkan makam yang dilakukan bersama-sama dengan gotong royong. Rumput liar atau tanaman liar yang sekiranya mengganggu pemandangan di makam akan dibersihkan di bulan Ruwah ini. Sehingga menjadikan makam-makam akan terlihat bersih dan tidak terasa sangar atau menakutkan.

Sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat dan juga pemuda-pemuda PSHT desa Sarirejo Kecamatan Balen kabupaten Bojonegoro khususnya dukuh Bebet Kidul saat membersihkan makam “Mbah Wongso”. Mbah Wongso adalah sesepuh dukuh Bebet Kidul masyarakat setempat sering menyembutnya dengan istilah Danyange Bebet.

Dalam Jawa Danyang diartikan sebagai roh suci yang menjaga pohon, gunung, desa, sumber mata air ataupun sumber mata angin.
Sadranan merupakan lanjutan dari resik-resik atau membersihkan makam, selanjutnya pada tanggal yang sudah disepakati di kampung setempat. Warga akan melakukan tahlil dan do’a bersama, ada yang di makam, balai desa dan juga mushola atau masjid.

Pada tradisi ini masyarakat pasti tidak asing dengan yang namanya “kue apem”, kenapa kue apem ini sangat familiar dalam sebuah tradisi Jawa yang bernuansa keagamaan, misalnya seperti acara memeringati 3 hari kematian sampai 100 hari kematian. Kue apem ini selalu yang menjadikan ciri khas utama.

Jika dilihat dengan kaca mata sejarah, tradisi kue apem merupakan napak tilas perjuangan dakwah Ki Ageng Gribig. Nama asli Ki Ageng Gribig sendiri adalah Wasibagna. Ki Ageng Gribig adalah cucu Prabu Brawijaya dari kerajaan Majapahit, putra dari R.M. Guntur atau Prabu Wesi Jalandara. Ada juga yang mengatakan Ki Ageng Gribig masih keturunan Maulana Malik Ibrahim, yang berputra Maulana Ishaq, yang berputra Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri), yang berputra Maulana Muhammad Fadhillah (Sunan Prapen), yang berputra Maulana Sulaiman alias Ki Ageng Gribig. (Ahmad Saifuddin, 2017)

Ki Ageng Gribig merupakan salah satu ulama pada zaman Mataram yang menyebarkan agama Islam khususnya di Jatinom kabupaten Klaten Jawa Tengah. Saat menunaikan Haji dan pulang daari Mekah beliau membawa oleh-oleh berupa kue dari Arab Saudi yang kemudian dibagikan kepada murid-muridnya. Namun kue tersebut tidak mencukupi karena saking banyaknya murid. Lalu Ki Ageng Gribig meminta istrinya Nyi Ageng Gribig untuk mengolah kue tersebut supaya mencukupi apabila dibagikan murid-muridnya.

Kue inilah yang kemudian disebut dengan nama Apem. Kue Apem tersebut berasal dari bahasa Arab “Affan” yang berarti Ampunan. Tujuannya agar manusia atau masyarakat selalu memohon ampunan kepada Sang Pencipta. (Ahmad Saifuddin, 2017).

Dari sejarah adanya kue Apem ini kita bisa belajar, bahwa sebuah kesalehan itu tidak selalu bersifat individual melainkan juga bersifat sosial (saleh sosial). Sebagaimana yang dilakukan oleh Ki Ageng Gribig saat melakukan perintah-perintah Allah yang sifatnya individual namun berdampak untuk sosial. Misalnya sepulang menunaikan ibadah haji dari Mekkah Ki Ageng Gribig memberikan pelajaran kepada kita semua, bahwa kita dihidupkan oleh Allah di planet bumi ini tidak sendirian, maka sesama manusia haruslah berbagi, saling mengasihi dan tolong menolong tentunya dalam masalah kebaikan, tentunya  jadilah manusia yang memanusiakan.

Tidak ada komentar:
Write komentar