Saturday, May 6, 2017

Simbiosis Mutualisme Nahdlatul Ulama Dan Muhammadiyah

    Saturday, May 06, 2017  

Oleh: M. Agus Wahyudi
(Darul Afkar Institute Klaten Jateng)

Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi masyarakat yang fokus dan bergerak dalam bidang keagamaan. Lebih tepatnya sebuah organisasi masyarakat agama Islam di Indonesia  yang pengikutnya cukup besar. Pengikut organisasi ini berada kota-kota besar sampai desa-desa terpencil. Seringkali kita melihat fenomena masyarakat dan diberbagai media terjadinya perbedaan prinsip serta tata cara kedua ormas ini dalam masalah sosial, agama, budaya dan politik. Namun, keduanya sama-sama mentransformasikan ajaran Islam sesuai fungsi dan porsi dengan visi misinya dalam medakwahkan agama Islam. Memang tidak bisa dipungkiri Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah jelas berbeda atau tidak sama, perbedaan memang tidak bisa disamakan namun sebuah perbedaan dapat berjalan bersama.

Meskipun Nahdalatul Ulama dan Muhammadiyah merupakan organisasi masyarakat Islam di Indonesia yang berlandaskan fundamental Islam yakni Al-Qur’an dan Al-Hadis yang menegakan ‘amar ma’ruf nahi mungkar,  namun kedua organisasi Islam inilah salah satu penjaga keutuhan NKRI dan Pancasila. Karena Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sama-sama memiliki peran dalam kemerdekaan Republik Indonesia dan ikut berjuang baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, masa mempertahankan kemerdekaan, masa Orde Lama, Orde Baru dan Masa Reformasi.

Tokoh-tokoh Muhammadiyah yang kita kenal seperti KH. Mas Mansur, Prof. Kahar Muzakir, Dr. Sukirman Wirjosanjoyo adalah para pejuang yang tidak asing lagi. Demikian pula seperti Buya Hamka, KH AR. Fakhruddin, Dr. Amin Rais, Dr. Syafi’i Ma’arif dan Dr. Din Syamsudin adalah tokoh–tokoh Muhammadiyah yang sangat berperan dalam pentas nasional Indonesia. Begitu juga peran Nahdlatul Ulama, peranan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi dalam perjuangan mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan tidak diragukan lagi. Bahkan para Kyai dan santri memikul senjata (bambu runcing atau golok) untuk berjihad fi sabilillah. Tercatat dalam sejarah tanggal 23 Oktober 1945 NU mengeluarkan Resolusi Jihad untuk melawan tentara penjajah. (lihat: Sang Kyai).

Sebagaimana kata mantan Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau sering disapa Gus Dur, NKRI itu ibarat sebuah rumah besar yang banyak kamarnya dan kita mempunyai kamar sendiri-sendiri. Saat di dalam kamar, setiap pemilik kamar bisa menggunakan dan merawat kamarnya sendiri-sendiri serta boleh berbuat apa pun di dalamnya. Tapi, ketika berada di ruang keluarga atau di ruang tamu, kepentingan masing-masing kamar dilebur untuk kepentingan rumah bersama.

Para penghuni rumah, tanpa mempersoalkan asal kamar masing-masing, harus bersatu merawat rumah itu dan mempertahankannya secara bersama-sama dari serangan yang datang dari luar. Kita mempunyai rumah besar NKRI yang sudah dibangun dengan fondasi kokoh Pancasila dan yang terdiri atas kamar-kamar primordial. Kita harus bersatu menjaga rumah NKRI ini tanpa kehilangan identitas primordial masing-masing.

Rumah NKRI semoga menjadi rumah yang nyaman bagi setiap warganya, sehingga setiap umat bisa memberikan kontribusi positif. Maka membangun dialog di tengah beragam perbedaan menjadi keniscayaan, mengingat kemajemukan negeri ini. Apalagi para pendiri bangsa sudah mewariskan moto "Bhinneka Tunggal Ika". Berbeda-beda tetapi tetap satu.
Dengan berpegang pada moto tersebut, kita sebenarnya tidak perlu alergi terhadap perbedaan, apalagi setiap agama sama-sama mengajarkan kebaikan, cinta, dan keadilan. Setiap pemeluk agama perlu terus mendorong terjadinya dialog, kerja sama, dan sinergi di dalam bingkai NKRI.

Kurang lebihnya hal inilah yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam menjaga NKRI dan Pancasila disamping fokus menangani dalam bidang keagamaan dan juga diluar perbedaann dari kedua ormas Islam tersebut.

Dari sini kita bisa melihat, bahwa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah merupakan ormas Islam yang bersimbiosis mutualisme. Simbiosis berasal dari bahasa Yunani sym yang berarti dengan dan biosis yang berarti kehidupan. Simbiosis merupakan interaksi antara dua organisme yang berbeda jenis (A. Suyitno dan Sukirman, 2006). Sedangkan mutualisme adalah cara dua organisme biologis berinteraksi di mana setiap individu saling menguntungkan (Adenbagus, 2011). Jadi, Simbiosis Mutualisme adalah cara hidup bersama antara dua jenis organisme yang berbeda dan saling menguntungkan (Saktiono,2006).

Istilah “simbiosis mutualisme” tidak bisa lepas dari dunia sains, namun bukan berarti istilah tersebut tidak bisa keluar dari ranahnya. Istilah atau teori tersebut mengandung makna luas, salah satunya dapat dilihat dari kedua ormas Islam Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang saling melengkapi dan menguntungkan, sebagaimana pengertian simbiosis mutualisme yang dijelaskan oleh Saktiono.

Fenomena dewasa ini banyak pelajar dari kalangan Nahdlatul Ulama yang belajar di sekolah-sekolah bentukan  Muhammadiyah. Begitu juga banyak anak-anak Muhammadiyah yg mondok di Pesantren milik Nahdlatul Ulama. Sebagaimana realoita saat ini Nahdlatul Ulama sedang krisis dalam bidang kesehatan dan pendidikan misalnya dokter dan guru/dosen. Sedangkan kalangan Muhammadiyah saat ini bisa dibilang krisis  dalam bidang tokoh keagamaan jika dibandingkan dengan Nahdlatul Ulama salah satunya minimnya Kyai atau ulama dari kalangan Muhammadiyah.

Misal, ketika warga Nahdlatul Ulama sedang sakit mereka berobat ke Rumah sakit milik Muhammadiyah, misalanya ke PKU Muhammadiyah (Pembina kesejahteraan umat) PKU Muhammadiyah merupakan salah satu amal usaha Muhammadiyah yang bergerak di bidang kesehatan dan sosial, yang hampir ada disetiap lingkup kecematan.  Begitupun para dokter dan dosen Muhammadiyah ketika sudah stres dan pusing dengan masalah yang dialaminya  mereka sowan dan konsultasi dengan kyai-kyai Nahdlatul Ulama. Baik Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah keduanya bersimbiosis mutualisme, saling menguntungkan, dan saling melengkapi. Jika boleh diibaratkan, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ibarat kakak dan adik.

Karena sudah dewasa, keduanya memutuskan menikah dan menempuh hidupnya masing masing. NU memilih hidup dan bergumul dengan merawat tradisi-tradisi, sedangkan Muhammadiyah memilih hidup dengan pembaharuan dalam Islam.

Jika dilihat dengan kacamata sejarah, menempatkan keduanya di titik yg polaritatif (berseberangan) adalah hal yg kurang tepat karena akan memicu tindakan yang negatif. Karena pendiri  Nahdlatul Ulama (KH. Hasyim Asy’ari) dan pendiri Muhammadiyah (KH. Ahmad Dahlan) pernah sama sama menuntut ilmu dari guru yg sama. KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari adalah sama-sama keturunan Sunan Giri (Syekh Maulana ‘Ainul Yaqin), yang apabila ditarik garis ke atas, nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw. Ketika keduanya lahir, oleh orang tua mereka masing-masing diberi nama depan yang sama, yaitu Muhammad. Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis, sedangkan nama kecil KH. Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim. Keduanya pernah berguru kepada ulama besar yang sama, yaitu kepada KH. Saleh Darat al-Samarangi, Selain itu keduanya juga pernah nyantri di Makkah kepada Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi. Di sanalah tampak kecenderungan masing masing. Kyai Hasyim sangat mencintai hadis, dan islam tradisi.

Sementara Kyai Dahlan lebih tertarik bahasan pemikiran dan gerakan Islam. Selama puluhan tahun mereka selalu bersama, hidup dalam pusaran lautan ilmu yang luas, dibimbing bersama, mengenyam ilmu bersama, hidup dalam jalinan kasih sayang yang tulus karena Gusti Allah semata. Tak pernah ada dalam kisah atau sejarah mereka berdua bertengkar, sama sekali tidak pernah.

Saat pulang ke Indonesia, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah yang berlambang matahari,  KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdhatul Ulama yang berlambang bumi dan bintang. Muhammadiyah banyak dijiwai oleh semangat QS. Ali Imran ayat 104, sedangkan Nahdlatul Ulama, QS. Ali Imran ayat 103. Dan, K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama tidak lama setelah K.H. Ahmad Dahlan wafat.

Kyai Hasyim Asy’ari pulang ke Jombang di daerah pedesaan yang mayoritas masyarakatnya adalah para petani, sedangkan Kyai Ahmad Dahlan pulang ke Yogya di daerah perkotaan yg mayoritas masyarakatnya adalah para pedagang di lingkungan keraton. Bertemu dg kondisi sosial masyarakat yang berbeda tentu  cara dakwah keduanya juga berbeda. Kyai Hasyim Asy’ari lebih mengedepankan Islam sufistik yg berbau mistik kepada masyarakat karena di pedesaan yg masih kental akan tradisi tradisi nenek moyang dan juga mitos mitos yg masih mengakar di pola pikir masyarakatnya.

Namun Kyai Hasyim Asy’ari berhasil mengislamisasi umat dengan sangat adaptif, adoptif dan akomodatif. Sedangkan Kyai Ahmad Dahlan lebih mengedepankan pola pikir rasional dan Islam pembaharuan dalam proses islamisasinya sadar bahwa masyarakat yg dihadapi sudah berpikir lebih maju dengan sedikit sentuhan modernitas seperti sekolah sekolah formal, unit unit kesehatan, lembaga amal dan lain sebagainya. Baik Kyai Hasyim Asy’ari maupun Kyai Ahmad Dahlan berhasil melakukan proses Islamisasi kepada masyarakat Indonesia. Hingga ormas Islam yang digagas keduanya sampai sekarang menjadi dua ormas Islam yang paling banyak diikuti oleh umat Islam di Indonesia. Ini tidak lepas dari peran keduanya yang lebih mngedepankan sikap kemasyarakatan yang tawasuth (moderasi), tawazun (berimbang), ta’adul (netral-berkeadilan), dan tasamuh (toleransi). Wallohu a’alam.

No comments:
Write comments