Monday, May 8, 2017

Urus Izin Toko Biasa Berubah Menjadi Toko Modern, Langgar Perda

    Monday, May 08, 2017  

Reporter: Iwan Zuhdi


suarabojonegoro.com -  Sebuah toko yang berada di Desa Cendono Kecamatan Padangan ditengarai telah meyalahi aturan. Pasalnya, izin yang diajukan oleh pemilik toko di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Bojonegoro berbeda dengan keadaan dilapangan.

Awalnya, pemilik toko hanya mengurus perizinanya dengan kategori toko biasa. Namun sejak awal bulan Maret 2017 lalu tampilan serta barang yang dijual di toko tersebut berubah menjadi toko modern.

Selain itu, warga setempat mengeluh dengan adanya toko yang dinilai sudah masuk kategori modern tersebut. Sebab, jarak antara toko modern dengan pasar tradisional terlalu dekat. Apalagi juga masih banyak warung-warung disekitar toko. Sehingga dampak itu sangat dirasakan oleh pasar tradisional.

Kepala Desa Cendono Kecamatan Padangan Purno Sulistiyo saat disinggung mengenai hal itu mengatakan, selama ini pihak Pemerintah desa telah menerima keluhan masyarakat setempat terkait dampak adanya toko modern yang dinilai sangat berdekatan dengan pasar tradisional tersebut.

Padahal, katanya, menurut Perda Kabupaten Bojonegoro terkait pasar modern, jarak antara pasar modern dengan pasar tradisional minimal adalah 750 meter.

"Selain itu menurut perijinan kuota Padangan untuk minimarket sudah habis. Dan di Perda untuk minimarket 750 meter dari pasar tradiaional," katanya kepada suarabojonegoro.com. Senin (8/5/17).

Tak hanya mengeluh pada Pemdes setempat, warga mengaku sudah kirim surat ke Bupati Bojonegoro hingga tiga kali, dengan harapan segera ada ketegasan dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dengan adanya toko modern yang menyalahi aturan tersebut.

Terpisah, Kabid Pelayanan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Bojonegoro, Sutomo saat dikonfirmasi menganai hal itu membenarkan secara tegas, jika pemilik toko awalnya hanya mengurus untuk toko biasa saja. Bukan untuk toko modern.

Dikatakan pula olehnya, pemilik toko tersebut awalnya telah mengurus dua izin untuk mendirikan toko biasa tersebut yakni izin gangguan (HO/Hinderordonnantie) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

"HO IMB untuk Toko," kata Sutomo singkat. Apakah toko modern? Sutomo tidak membenarkanya. "Bukan," cetusnya.

Disinggung terkait rekomendasi untuk ditertibkan, pihaknya akan mengecek data terlebih dahulu. "Saya cek dulu," pungkasnya.

Hingga berita ini ditulis, suarabojonegoro.com mencoba menghubungi pihak toko modern tersebut. Nomor layanan konsumen yang ditulis di pintu toko masih belum membalas pesan pendek yang disampaikan suarabojonegoro.com. (wan/red).

No comments:
Write comments