Friday, November 10, 2017

PENDIDIKAN ANTARA DESA, KOTA, DAN DUNIA

    Friday, November 10, 2017   No comments

Oleh : Mochamad Dedy Kurniawan

suarabojonegoro.com - Bicara soal pendidikan, menurut KBBI pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Nah, sebagaimana kita tahu pendidikan itu mempunyai makna sebagai bekal untuk menuju hal-hal yang lebih baik bagi setiap orang. Pendidikan mencakup semua aspek penting dalam diri tiap individu khususnya aspek kepribadian. Aspek-aspek pendidikan yang berpengaruh dalam kehidupan tiap individu yakni, kecerdasan, keagamaan, akhlak, bermasyarakat, keterampilan, pengembangan potensi dan juga bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Nah, disini saya akan berusaha membahas pendidikan antara desa, kota, dan dunia. Kenapa ?, karena terdapat hal-hal menarik bagi saya. Desa dan kota merupakan salah satu bagian dari dunia. Dari segi pendidikan terdapat beberapa hal perbedaan dan persamaan diberbagai tempat. Hal inilah yang membuat masalah pendidikan merupakan salah satu hal mendasar untuk mengetahui sudah baik atau tidaknya suatu bangsa. Dimana setiap bangsa yang baik pasti memiliki sistem pendidikan yang baik. Tentunya dengan sistem pendidikan yang di terapkan di suatu bangsa dapat di jadikan tolak ukur sudah sejauh mana tingkat pembangunan bangsa itu sendiri.

Di Indonesia sistem pendidikan belum sepenuhnya selaras. Masih ada beberapa aspek yang membuat ketidakstabilan perkembangan pendidikan di Indonesia. Tetapi pendidikan di Indonesia tidak dapat dibilang buruk juga, karena sudah mengalami beberapa kemajuan dalam berbagai bidang. Untuk menilai sudah sebaik apa pendidikan di bangsa ini salah satunya dapat di tinjau dari segi kualitas pendidikan yang tinggi. Tapi yang menjadi kendala selanjutnya apakah kualitas pendidikan itu dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi sudah merata apabila di tinjau dari lokasinya. Tentunya akan timbul perbedaan kualitas pendidikan di kawasan perkotaan dan daerah pedesaan. Tetapi kita masih perlu menjabarkan apa kelebihan dan kekurangan dari pendidikan di kota dan di desa. Ditinjau dari segi fasilitas, pendidikan di kota mendapat fasilitas-fasilitas yang di rasa cukup untuk menunjang proses pembelajaran. Dengan penunjang seperti ini membuat kualitas pendidikan di kota mengalami peningkatan. Tetapi, pendidikan di kota bukan berarti tidak memiliki celah. Banyak celah yang dapat kita temukan, terutama disiplin moral. Sering terjadi hal-hal yang merugikan masyarakat seperti tawuran antarsekolah. Meskipun sudah ditunjang dengan fasilitas yang cukup, belum tentu pendidikan di kota tidak terdapat kekurangan. Hal inilah yang masih di evaluasi pemerintah supaya mengubah pendidikan di kota lebih baik lagi. Sedangkan kalau kita lihat saudara-saudara kita yang mengenyam pendidikan di desa apakah mereka mendapatkan perlakuan yang sama seperti di kota, kalau di analisa maka dapat dikatakan bahwa adanya perbedaan perlakuan. Tetapi perbedaan antara kota dan desa tidak selamanya merujuk kepada hal negatif dan positif, dalam beberapa hal justru desa telah menunjukkan prestasi luar biasa dibanding dengan kota. Khusus pada masalah pendidikan misalnya, secara umum dari sisi fasilitas, perbedaan sekolah antara di kota dan di desa, memang sungguh jauh perbedaannya. Namun dari sisi semangat belajar, anak-anakdi desa tak kalah. Bahkan belakangan secara umum di kota dengan berbagai kemudahan, anak-anak tidak menunjukkan prestasi yang sepadan. Sebaliknya di desa, dengan berbagai keterbatasan, muncul anak-anak yang berprestasi dan memiliki semangat belajar luar biasa. Kemajuan teknologi telah membuat perubahan yang luar biasa. Anak-anak perkotaan telah menyerap dengan sempurna berbagai perubahan teknologi, sehingga telah menjadi pemandangan sehari-hari bagaimana anak-anak perkotaan tak bisa terlepas dari gadget mereka. Sementara anak-anak di desa, untuk memiliki alat-alat teknologi yang tinggi sebagian besar masih menjadi impian. Tetapi dampak dari teknologi yang negatif, telah terserap dengan sempurna di kota, sementara desa tidak begitu kelihatan mencolok pengaruhnya. Contoh, pada saat menjelang maghrib, anak-anak di perkotaan masih sibuk di depan televisi, playstation atau sedang menjelajah di dunia maya, sementara anak-anak di desa menjelang maghrib masih terlihat banyak yang sudah siap untuk pergi ke mesjid, mushola dan langgar, untuk sholat maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan belajar mengaji.

Keadaan di sekolah pun antara di kota dan di desa juga berbeda. Fasilitas sekolah perkotaan relatif lebih maju, tidak seperti yang ada di desa. Gedung sekolah di perkotaan juga relatif bagus, sedangkan di desa lebih sederhana bahkan tidak sedikit yang masih memprihatinkan. Di sekolah perkotaan anak-anak berseragam, cantik dan tampan, bersepatu dan wangi. Sementara di sekolah pedesaan, masih menjadi pemandangan sehari-hari bagaimana anak-anak sekolah berseragam aneka warna, ada yang tidak mengenakan alas kaki dengan wajah lesu dan lelah, karena tidak jarang sampai sore hari masih harus membantu kegiatan orang tuanya. Semua hal tersebut tidak membuat anak-anak di pedesaan luntur semangatnya untuk belajar, karena pendidikan merupakan salah satu aspek tolak ukur pembangunan suatu bangsa.

Selanjutnya pendidikan di dunia, saya mengambil contoh di negara maju seperti Amerika Serikat. Kita sebagai pelajar di negara berkembang seperti Indonesia, kita wajib membawa negara ke arah yang lebih baik di masa yang akan datang. Sejauh ini, sistem yang terjadi pada pendidikan di Indonesia adalah membekalkan para pelajar dengan berbagai disiplin ilmu di sekolah. Banyak sekali mata pelajaran yang mesti kita pelajari. Hasilnya,  tidak sedikit pelajar di Indonesia yang mengeluh tentang sistem pendidikan kita ini. Mulai dari keluhan tentang jumlah pelajaran yang seabrek-abrek, banyaknya tugas dan PR, sampai kurangnya waktu untuk beristirahat dan mengeksplor hobi. Sekarang kita lihat tingkat pendidikan di Amerika yang sangat maju dan merata. Demikian pula sistem pendidikan yang diterapkan. Dari total penduduk, 97%-nya sudah memiliki kemampuan baca dan tulis (melek huruf). Ada beberapa hal yang dapat diadopsi pada sistem pendidikan disana. Amerika Serikat terkenal sebagai negara yang sangat memperhatikan pendidikannya. Dalam jumlah pelajaran contohnya. Amerika Serikat membebaskan siswanya untuk memilih sekitar 5-8 pelajaran per semester. Walaupun tetap ada beberapa pelajaran yang wajib diambil seperti matematika, namun sistem ini terbukti membantu siswa untuk lebih mengetahui minat dan bakat. Selain itu, sekolah-sekolah sangat memperhatikan siswanya. Biasanya, ada seorang counselor alias guru BK yang ditugaskan ke beberapa siswa tertentu dan siap menampung berbagai keluhan dari mereka. Tidak cuma tentang sekolah, masalah di luar akademis yang berpengaruh pada konsentrasi belajar kita pun bisa berbagi pada counselor tersebut. Bahkan, di beberapa sekolah terdapat psikolog yang siap membantu. Kalau sudah begitu, kegalauan siswa tidak perlu sampai tumpah ke media sosial. Amerika juga dikenal memiliki universitas-universitas yang mencetak para ahli dan ilmuwan andal. Maka tidak salah kalau Amerika menjadi tujuan para mahasiswa dari seluruh penjuru dunia.

Walaupun begitu, hal-hal tersebut tentunya harus melalui proses yang panjang untuk bisa kita terapkan di Indonesia. Penetapan Kurikulum 2013 yang mendorong keaktifan siswa adalah langkah yang tetap. Tetapi, bukan tidak mungkin sistem pendidikan dari luar negeri tadi bisa diadopsi di negara ini.
Saya percaya pemerintah tidak bisa kerja sendiri. Tentunya semua lapisan masyarakat harus bekerja sama untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Semoga dengan banyaknya pembaharuan sistem, pendidikan kita tidak kalah bersaing di masa yang akan datang. Majulah pendidikan Indonesia! (*)

*) Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan IKIP PGRI Bojonegoro

No comments:
Write comments